Nabire, WAGADEI – Pesan mendalam dan penuh harapan disampaikan Senator Papua Tengah, Eka Kristina Murib Yeimo, pada Jumat, 24 Juli 2026 menyuarakan keprihatinan mendalam atas rentetan kekerasan yang terus merenggut nyawa di Tanah Papua sejak tahun 1963 hingga hari ini. Ia menegaskan, Papua bukan medan pertempuran, bukan pula tempat latihan tempur bagi siapa pun, melainkan rumah bersama tempat seluruh anak bangsa seharusnya hidup aman, damai dan bermartabat.
Dalam pernyataannya, Eka Kristina Murib Yeimo menyoroti kenyataan pahit yang terus berulang yakni korban terus berjatuhan dan warga sipil menjadi sasaran baik dari pihak TNI maupun dari pihak TPNPB/OPM.
Nyawa rakyat yang tak berdosa seolah tak lagi bernilai di tengah gesekan yang terlihat dibiarkan berlarut-larut. Ia juga menyayangkan kondisi yang membuat seluruh warga negara seolah kehilangan arah, seakan tak ada pemimpin yang mampu duduk bersama dan mencari jalan keluar atas luka yang sudah berlangsung lebih dari enam dekade .
“Sebagai Senator Papua Tengah, saya sangat menyayangkan konflik yang berlarut-larut ini, seakan tak ada ujungnya. Padahal, Aceh yang pernah dilanda perang saudara pun akhirnya bisa diselesaikan lewat dialog. Saya yakin Papua pun bisa. Saya tidak menutup kemungkinan pesimis, namun saya tetap optimis bahwa setelah hujan deras, pasti akan ada pelangi yang indah,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang dikirim ke redaksi Wagadei.id.
Pernyataan Yeimo ini bukan sekadar seruan, melainkan cerminan suara hati ribuan warga Papua Tengah yang mendambakan satu hal sederhana, bahwa tanah yang melahirkan kita, tak boleh menjadi tempat yang menelan kita kembali. Papua adalah rumah kita semua, rumah yang seharusnya dijaga, bukan dihancurkan dan rumah yang seharusnya menyatukan, bukan memecah belah.
Senator Eka meminta kepada seluruh pihak yang bertikai, baik pimpinan TNI maupun pimpinan TPNPB/OPM segera duduk bersama di meja dialog terbuka. Ia menegaskan, jangan baku tembak sebab akan melahirkan duka yang tak berkesudahan, bahkan merusak masa depan anak-anak dan mematikan harapan masyarakat yang hanya ingin hidup tenang di tanah leluhurnya sendiri.
“Masyarakat saya hanya ingin hidup aman dan damai di tempatnya. Kepada pihak-pihak yang masih bertikai itu selesaikanlah ini secepatnya. Jangan biarkan tanah air kita terus menjadi ladang darah dan air mata. Damai bukanlah mimpi yang jauh, melainkan hak mutlak yang harus kita perjuangkan bersama,” ujarnya tegas. (*)
