Natal 2025 di Intan Jaya: Ketika Cahaya Lilin Harus Menembus Kabut Ketakutan 

Oleh: Beni Degei

 

PERAYAAN Natal biasanya datang dengan kehangatan. Dengan tawa anak-anak yang memecah dinginnya kabut pegunungan, dengan denting tifa yang mengiringi tarian kecil di halaman gereja, dengan aroma kue yang keluar dari rumah-rumah sederhana. Namun di Intan Jaya, Natal 2025 terasa berbeda.

 

Hening dan sunyi. Seolah-olah langit pun ikut menahan napas. Di kampung-kampung yang berjajar di lereng bukit, warga merayakan Natal dengan hati-hati. Bukan karena mereka tidak ingin bahagia, tetapi karena ketakutan telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

 

Suara-suara asing yang tak jelas arah, kabar yang datang dari kampung tetangga, dan ketidakpastian yang menggantung membuat banyak orang menyimpan kegembiraan dalam-dalam, seolah takut jika ditunjukkan terlalu terang.

 

Anak-anak yang tidak lagi tahu bagaimana rasanya Natal yang meriah biasanya, anak-anak menjadi pusat kehidupan di hari Natal. Namun tahun ini, anak-anak Intan Jaya hanya bisa duduk diam di bangku gereja tanpa kostum, tanpa panggung, tanpa sorotan lampu.

 

Seorang siswi kecil di Sugapa, ibukota kabupaten Intan Jaya menatap kosong ke luar jendela gereja, seolah menunggu sesuatu sesuatu yang tak kunjung datang “Mama, kita tidak menari?”.

 

Pertanyaan sederhana itu dijawab jawab Ibunya dengan senyum yang dipaksakan: “Tahun ini kita berdoa saja nak,” Guru-guru yang biasanya mempersiapkan paduan suara dan drama Natal pun hanya mampu menggeleng pelan ketika murid-murid bertanya kapan mereka akan tampil. Anak-anak telah berlatih lagu sejak November, tetapi pentas kecil itu tidak pernah terjadi.

 

Ibadah Natal yang Dipindahkan ke Siang Hari

 

Di banyak tempat, ibadah Malam Kudus yang biasanya menjadi momen paling sakral—tidak bisa dilaksanakan. Malam bukan lagi waktu untuk bernyanyi, melainkan waktu untuk berjaga. Gereja-gereja memutuskan mengadakan ibadah pada siang hari, saat matahari masih memberi sedikit rasa aman. Dalam ruangan sederhana itu, nyanyian pujian terdengar pelan, seolah jemaat takut jika suara yang terlalu besar dapat membangunkan sesuatu di luar sana. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, doa terdengar lebih jernih. Lebih dalam. Lebih tulus.

 

Suara-Suara yang Membuat Warga Tidak Tidur

 

Beberapa warga bercerita bahwa mereka sering mendengar suara gerakan di malam hari. Tidak ada yang tahu pasti siapa, dan tidak ada yang berani menebak. Malam terasa panjang, bahkan lebih panjang daripada biasanya. Bagi keluarga yang punya anak kecil, inilah masa yang paling berat. “Kalau bunyi muncul, anak-anak langsung peluk kami,” kata seorang ibu di Wandai. “Mereka tanya, ‘Mama, aman kah?’ Kami tidak tahu harus jawab apa.” Dalam situasi seperti itu, Natal terasa seperti tamu yang datang tanpa bisa membuka pintu.

 

Para Tokoh Agama dan Adat Tidak Menyerah

 

Demi menjaga harapan, para pendeta, tokoh adat, kaum ibu, dan pemuda berkeliling kampung menjelang Natal. Mereka membawa apa saja yang bisa mereka kumpulkan: beras, gula, pakaian anak-anak, bahkan hanya pelukan dan doa. “Kita tidak boleh biarkan Natal hilang begitu saja,” kata seorang pendeta tua di Hitadipa.

 

“Kalau cahaya padam, kita nyalakan lilin. Kalau lilin padam, kita nyalakan hati.” Ucapan itu membuat banyak warga menangis diam-diam di sudut gereja.

 

Natal yang Redup, Tetapi Tidak Mati

Pada 25 Desember, kampung tetap sepi. Tidak ada tawa keras, tidak ada perayaan besar. Tetapi dari beberapa rumah, terlihat cahaya kecil dari lilin-lilin Natal. Di dalam rumah itu, doa sedang dinaikkan. Seorang nenek di Ugimba duduk menghangatkan tangan di dekat lilin kecil. “Dulu Natal itu besar,” katanya pelan.

 

“Sekarang kecil sekali. Tapi harapan tetap ada. Asal hati kita tidak ikut gelap.” Di Intan Jaya, Natal 2025 mungkin kelabu. Tetapi dari lilin-lilin yang menyala di tengah kabut, dari suara doa yang dipanjatkan dengan bibir gemetar, dari tangan-tangan kecil anak-anak yang masih percaya esok akan lebih baik—masih ada cahaya yang bertahan. Dan kadang, cahaya yang kecil itu justru paling kuat. ***

 

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik (STK) Touye “Paapaa” Deiyai

Pos terkait