ULMWP Kutuk Keras Kebiadaban TNI/Polri di Dogiyai

Pemimpin Eksekutif ULMWP Periode 2023–2028, Menase Tabuni President Executive, Octovianus Mote Wakil President Executive, dan Markus Haluk Secretaris Executive mengeluarkan seruan persiapan menghadapi risiko terburuk di Papua. - IST
Pemimpin Eksekutif ULMWP Periode 2023–2028, Menase Tabuni President Executive, Octovianus Mote Wakil President Executive, dan Markus Haluk Secretaris Executive mengeluarkan seruan persiapan menghadapi risiko terburuk di Papua. - IST

Nabire, WAGADEI.ID – United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP mengutuk keras tindakan kebiadaban militer Indonesia atau TNI/Polri yang mengorbankan warga sipil di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah pada 31 Maret 2026 hingga 2 April 2026.

“Dengan alasan dan dasar hukum serta norma apapun, tindakan kebiadaban ini tidak dapat dibenarkan dan ditoleransi. Tindakan aparat kolonial ini memperlihatkan watak rasisme sistemik dalam upaya genosida dan etnosida terhadap rakyat West Papua,” kata Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni dikutip dari siaran pers yang diterima Wagadei.id di Nabire, Papua Tengah, Kamis (2/4/2026).

Dia mengatakan, ULMWP mendesak PBB agar menurunkan tim investigasi independen, untuk mengkaji ancaman serius yang dihadapi rakyat Dogiyai atas kasus Dogiyai Berdarah dan West Papua pada umumnya, dalam kurun waktu 65 tahun pendudukan Indonesia.

Wakil Presiden Eksekutif ULMWP Octovianus Mote, dari Amerika Serikat menyerukan kepada para pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) dan Pacific Islands Forum (PIF) untuk memberikan perhatian serius terhadap kasus Dogiyai Berdarah dan mendorong kunjungan tim investigasi internasional independen, sejalan dengan Komunike Para Pemimpin PIF di Port Moresby, PNG tahun 2015 hingga Komunike Para Pemimpin MSG di Port Vila, Vanuatu pada Agustus 2023.

ULMWP juga menyerukan kepada para pemimpin adat, gereja, akademisi, mahasiswa, perempuan, dan solidaritas internasional untuk membawakan situasi West Papua dalam Tiga Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung hingga Minggu Paskah).

ULMWP menyatakan, aparat kolonial Indonesia tidak melakukan investigasi secara damai lebih awal terhadap pembunuhan anggota Polres Dogiyai, Yuventus Edowai yang dibunuh orang tak dikenal (OTK) pada 31 Maret 2026.

Berdasarkan informasi yang diterima ULMWP, peristiwa ini bermula dari dugaan tagihan kepada bandar judi online yang sesungguhnya orang non-Papua (diduga dibekingi anggota aparat keamanan setempat). Pembunuhan terhadap anggota polisi ini terjadi setelah dikeluarkannya rencana wilayah Meepago (Dogiyai, Deiyai dan Paniai) Damai yang dipelopori masyarakat dan pemerintah setempat agar wilayah ini bebas dari minuman keras dan tindakan kekerasan.

ULMWP menilai pembunuhan terhadap anggota polisi, Yuventus Edowai, merupakan strategi pengalihan dan sengaja dibuat untuk merusak rencana pelarangan penjualan minuman keras serta menjaga wilayah Meepago tetap aman dan damai.

 Kronologis kasus Dogiyai Berdarah versi ULMWP

Tanggal 31 Maret 2026, sekitar pukul 10.16 WP, seorang anggota polisi bernama Yuwentus Edowai dibacok di bagian leher. Lima jari tangan kanannya dimutilasi oleh pemuda dan tewas di tempat. Korban dibunuh di depan Gereja Ebenezer Moanemani. Pada pukul 10.20 WP, anggota kepolisian melihat insiden tersebut. TNI dan Polri mulai mengeluarkan tembakan secara membabi buta ke arah masyarakat sipil, yang saat itu sedang beraktivitas di sekitar Pasar Moanemani.

“Dugaan sementara, tindakan ini dilakukan atas perintah pimpinan kedua institusi,” demikian rilis ULMWP.

Lalu pada pukul 10.30 WP, lanjut rilis ULMWP, penembakan masih berlanjut. Kepolisian setempat menggunakan mobil patroli. Kapolres Dogiyai dengan anggotanya turut serta mengejar beberapa pemuda yang mengendarai motor dari pusat Moanemani hingga ke wilayah Distrik Kamuu Utara, Kamuu Selatan, dan di sepanjang jalan Ekemanida, Ikebo, Kimupungi, serta sekitar Kota Moanemani, Kabupaten Dogiyai.

Pada pukul 11.00 WP, terjadi operasi patroli ke perumahan warga di Kampung Ikebo, Kimupugi, Ekemanida, dan sekitarnya. Penembakan terhadap rumah dan kompleks masyarakat Papua terjadi.

Pada pukul 10.40–23.00 WP, terjadi pengejaran dan penembakan terhadap sejumlah warga sipil. Pada malam hari, aparat juga menggunakan mobil dalmas untuk melakukan operasi dan penembakan terhadap sejumlah warga sipil.

Keesokan harinya, 1 April 2026, sejak pagi, aparat keamanan bersiaga dan berjaga di kota serta sejumlah titik. Situasi tegang. Sejumlah warga sejak malam sebelumnya sudah mengungsi mencari perlindungan di tempat yang aman. Pada 1 April, warga tetap mengungsi mencari tempat perlindungan.

Pada hari ketiga, 2 April 2026, demikian rilis ULMWP, sekitar pukul 02.30 WP, aparat keamanan membunuh Ferry Auwe (20 tahun) di Kampung Puweta. Korban ditembak oleh gabungan pasukan TNI/Polri.

Dari rilis ULMWP terdapat beberapa korban kasus Dogiyai Berdarah, diantaranya, korban meninggal dari pihak masyarakat sipil lima orang, sedangkan dari pihak aparat satu orang. Selain itu, beberapa warga sipil mengalami luka tembak dan masih kritis yang perlu segera ditangani:

  1. Siprianus Tibakoto (25 tahun), tewas di tempat. Asal Kamuu Selatan, kejadian di Kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai pada 31 Maret 2026.
  2. Yulita Pigai (60 tahun), tewas di tempat dalam rumah pribadi. Kampung Ikebo, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai pada 31 Maret 2026.
  3. Martinus Yobee (17 tahun), kelas 6 SD Negeri Moanemani, tewas di tempat. Kampung Idakotu, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai pada 31 Maret 2026.
  4. Angkian Edowai (20 tahun), tewas di tempat. Warga sipil Kampung Denemani, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai pada 1 April 2026 pukul 01.54 WP.
  5. Fery Auwe (20 tahun), Kampung Puweta. Ditembak mati oleh gabungan TNI/Polri di Moanemani pada tanggal 2 April 2026 pukul 02.30 WP.

ULMWP menyatakan, hingga kini belum dipastikan jumlah korban meninggal dunia, karena beberapa orang yang mengalami luka tembak akibat gabungan pasukan TNI/Polri masih dirawat dalam kondisi kritis. 

“Salah satu korban luka kritis adalah anak bernama Maikel Waine (12 tahun),” demikian rilis ULMWP. []

Pos terkait