Nabire, WAGADEI – Di tengah dinamika pembangunan yang penuh tantangan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kembali membuktikan bahwa kekuatan spiritual menjadi fondasi tak terpisahkan dari upaya melayani masyarakat. Pada Senin, 13 Juli 2026, di Ballroom Kantor Gubernur Nabire, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Non-ASN berkumpul dalam Ibadah Oikumene dengan tema “Muna-Muna Papeda (Dimana Saja Kita Melayani)” dan subtema “Bagi yang Letih Lesu dan Berbeban Berat Mari Datang kepada Tuhan Yesus” (Matius 11:28).
Lebih dari sekadar rutinitas keagamaan, kegiatan ini menjadi pernyataan penting, bahwa pelayanan publik yang bermutu dan pembangunan daerah yang berkelanjutan membutuhkan kekuatan hati, iman, dan persatuan yang kokoh.
Papua Tengah sebagai provinsi baru hasil pemekaran terus berjuang menjawab beragam tantangan diantaranya akses layanan dasar yang belum merata, kesenjangan ekonomi, dinamika sosial, hingga upaya memastikan kebijakan Otonomi Khusus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh Orang Asli Papua (OAP). Menurut Ketua FKUB Papua Tengah, Drs. Ignatius Robertus Adii, M.Pd., berbagai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan teknis namun ia membutuhkan hikmat, ketabahan dan semangat pengabdian yang bersumber dari nilai luhur.
“Papua masih menghadapi banyak tantangan, sehingga melalui ibadah ini kita memohon hikmat dan kekuatan agar pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik dan Otonomi Khusus benar-benar membawa manfaat bagi orang Papua,” ujar Ignatius.
Pesan ini mengingatkan bahwa di tengah beban tugas yang berat, aparatur pemerintah tidak berjalan sendirian tapi doa dan kekuatan iman menjadi sandaran untuk bangkit kembali, bergerak dengan hati yang tenang dan melayani dengan tulus.
Tema “Muna-Muna Papeda” yang diangkat memiliki makna mendalam bagi identitas masyarakat Papua Tengah. Istilah “muna-muna” berarti musyawarah atau dialog terbuka, sedangkan “papeda” merupakan makanan khas yang menyatukan berbagai suku justru melambangkan persaudaraan yang tak terputus. Ibadah ini mengajak seluruh elemen pemerintahan untuk melayani di mana saja, tanpa memandang perbedaan latar belakang, dengan semangat persaudaraan yang sama kuatnya seperti rasa kebersamaan saat menikmati papeda bersama.
Pemilihan subtema yang mengajak mereka yang “letih dan berbeban berat” merujuk pada kenyataan bahwa tugas melayani masyarakat sering kali menuntut pengorbanan fisik dan mental. Melalui ibadah ini, aparatur diingatkan untuk tidak membiarkan kelelahan mengikis semangat, melainkan kembali kepada sumber kekuatan agar dapat memberikan pelayanan yang humanis, sabar, dan penuh kasih—sesuai dengan harapan Gubernur Meki Nawipa, SH agar ASN menjadi “agen pembawa damai” di tengah masyarakat.
Kegiatan Ibadah Oikumene ini telah berjalan rutin setiap bulan selama dua tahun terakhir, menjadi bukti konsistensi pemerintah daerah dan FKUB dalam membangun karakter aparatur. Bagi Ignatius, hal ini tidak boleh berhenti sebagai tradisi semata, melainkan harus terwujud dalam tindakan nyata, bahwa “Pemerintah membangun melalui berbagai program, sedangkan para hamba Tuhan menopangnya dengan doa. Kami berharap seluruh ASN dan Non-ASN melayani masyarakat dengan iman demi mewujudkan Papua Tengah yang maju, damai, dan sejahtera”.
Langkah ini selaras dengan visi FKUB Papua Tengah untuk menjadikan moderasi beragama dan nilai spiritual sebagai landasan stabilitas sosial, mencegah konflik, serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman suku dan keyakinan. Ketika aparatur bersatu dalam semangat melayani dan didukung oleh nilai-nilai kebaikan, program pembangunan dimulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi akan lebih mudah diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ibadah Oikumene di Kantor Gubernur Nabire bukanlah peristiwa yang terpisah dari realitas pembangunan Papua Tengah. Ia adalah jantung dari pelayanan publik: pengingat bahwa di balik aturan, anggaran dan proyek, ada hati manusia yang berhak diperlakukan dengan hormat, keadilan dan kasih sayang.
Semoga momen ini menjadi awal perubahan yang lebih besar: setiap langkah aparatur menjadi langkah yang membawa damai, setiap kebijakan lahir dari hikmat, dan setiap pelayanan menjadi bukti nyata persaudaraan yang menyatukan kita semua sama seperti papeda yang satu rasa, satu hati untuk Papua Tengah yang lebih baik. (*)
