Soroti Deretan Peristiwa Berdarah di Dogiyai, IPMADO Aksi Damai di Nabire 

Nabire, WAGADEI – Ribuan massa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) se-Kota Nabire turun ke jalan menggelar aksi damai besar-besaran, Senin, 11 Mei 2026 pagi. Aksi demonstrasi ini digelar khusus untuk menyoroti deretan peristiwa berdarah yang terus berulang menimpa tanah kelahiran mereka, Kabupaten Dogiyai, wilayah pegunungan Papua Tengah. 

 

Di bawah terik matahari, dengan atribut organisasi, pakaian adat, dan spanduk bertuliskan “Dogiyai Berdarah”, “Hentikan Kekerasan”, “Dogiyai Butuh Keadilan, Bukan Darah Yang Terus Tumpah”, serta “Kami Tuntut Keadilan”, massa berkonvoi tertib dari titik kumpul pasar Karang Tumaritis menuju halaman Kantor DPRD Provinsi Papua Tengah untuk menyampaikan aspirasi keras mereka.

Jejak Darah yang Tak Kunjung Kering

 

Pemicu utama aksi ini adalah rentetan peristiwa kelam yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, dan terbaru adalah pasca pembunuhan anggota Polres Dogiyai Juventus Edowai tanggal 31 Maret 2026 menyebabkan terjadinya penembakan sejumlah yang kini membuat seluruh masyarakat Dogiyai hidup dalam ketakutan mendalam dan duka yang tak berkesudahan.

Sejak akhir Maret hingga awal Mei 2026, serangkaian insiden penembakan dan tindakan kekerasan terjadi, merenggut nyawa enam warga sipil tak bersenjata dan melukai puluhan orang lainnya.

Paling baru, pada Minggu (10/5/2026), duka kembali menyayat hati. Seorang warga bernama Nopianus Tebai (21 tahun) yang juga siswa SMA Negeri 2 Dogiyai, tewas ditembak oleh oknum kepolisian di pinggir jalan saat hari libur yang seharusnya damai. Peristiwa ini menjadi titik mendidih yang membuat para pelajar dan mahasiswa tak lagi bisa diam.

“Darah terus mengalir di tanah kami. Dari bulan lalu sampai hari ini, berita yang datang selalu sama: ada saudara kami yang mati, ada keluarga kami yang luka, ada rumah kami yang terbakar atau kosong karena kami lari ketakutan. Apa dosa kami? Kenapa Dogiyai seolah jadi sasaran empuk kekerasan? Kami kaya alam, tapi miskin rasa aman,” ujar Marius Petege, Ketua IPMADO Nabire, saat orasi di depan massa.

 

Ia menegaskan, kejadian-kejadian ini bukan kecelakaan tunggal, melainkan pola berulang yang menunjukkan adanya kegagalan besar dalam penanganan keamanan dan penegakan hukum di Kabupaten Dogiyai. Warga yang seharusnya dilindungi negara, justru merasa paling terancam nyawanya sendiri.

Aksi Damai Penuh Martabat Budaya

Meski membawa kemarahan dan duka yang mendalam, aksi yang digelar IPMADO berjalan sangat tertib, damai dan berbudaya. Sebelum berjalan, massa menggelar doa bersama, aksi spontan dan tarian adat sebagai penghormatan bagi jiwa-jiwa saudara yang gugur. Tidak ada kerusakan fasilitas, tidak ada teriakan kasar dan massa tetap mendengarkan arahan koordinator lapangan.

 

“Kami turun ke jalan sebagai pelajar, sebagai mahasiswa, sebagai anak-anak Dogiyai. Kami tidak merusak, kami membangun kesadaran. Kami ingin semua tahu: rakyat Dogiyai itu beradab, rakyat Dogiyai itu cinta damai, tapi kami juga berani bersuara saat hak kami dirampas, saat nyawa kami dianggap murah,” Koordinator Lapangan aksi ini.

 

Gerakan ini juga mendapat dukungan luas. Terlihat hadir tokoh adat, pemuka agama, organisasi pemuda, hingga mahasiswa dari daerah lain di Papua Tengah yang ikut berdiri di barisan massa sebagai bentuk solidaritas. Pesannya jelas: Luka di Dogiyai adalah luka seluruh Papua Tengah.

 

Wakil Rakyat Terima Aspirasi, Janji Tindak Lanjut

 

Surat tuntutan dan pernyataan sikap diterima langsung Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, Jhon NR Gobai didampingi sejumlah anggota dewan menerima aspirasi dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) dan menegaskan komitmennya untuk mengawal pengusutan kasus kematian yang terjadi di Kabupaten Dogiyai.

Pernyataan tersebut disampaikan Gobai usai bertemu dengan mahasiswa di halaman kantor DPRD Provinsi. Dalam pertemuan itu, para mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan terkait penanganan kasus kemanusiaan di Dogiyai.

Gobai menegaskan bahwa DPR Papua Tengah akan mendorong agar proses hukum berjalan secara terbuka dan transparan sehingga fakta-fakta di lapangan dapat terungkap secara jelas.

 

“Kami akan membuka kasus ini secara terang benderang. Siapa pun pelakunya harus diusut. Kami juga akan terus mengingatkan Kapolda dan Wakapolda agar penanganan dilakukan secara transparan. Saya yakin kepada Kapolda,” ujar Gobai.

 

Meski begitu, IPMADO tidak langsung percaya begitu saja. Mereka menegaskan akan terus mengawasi setiap langkah yang diambil pemerintah. Jika dalam waktu yang ditentukan belum ada tindakan nyata dan hasil yang memuaskan, mereka berjanji akan kembali turun ke jalan dengan kekuatan yang lebih besar lagi.

 

Deretan Darah Tak Akan Terlupakan

 

Sekitar pukul 13.00 siang, aksi damai bubar secara tertib. Namun gema suaranya masih terasa kencang. Di Nabire hari ini, IPMADO telah membuka mata banyak orang: bahwa di balik kekayaan alam Dogiyai, ada deretan tragedi berdarah yang belum selesai, ada nyawa yang hilang sia-sia, dan ada rakyat yang berjuang mati-matian demi rasa aman dan keadilan.

 

Deretan peristiwa berdarah itu kini tercatat dalam sejarah, dan tak akan dilupakan. Dogiyai berdarah, tapi Dogiyai belum kalah. Suara dari mahasiswa, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan dan tokoh adat sudah terdengar jelas: Hentikan kekerasan, tegakkan keadilan, kembalikan damai di tanah kami. (*)

Pos terkait