Nabire, WAGADEI.ID – United Liberation Movement for West Papua atau ULMWP mengeluarkan seruan kepada rakyat Papua, untuk mempersiapkan risiko terburuk yang akan dihadapi orang-orang Papua.
Seruan bertajuk “Seruan Pemimpin Politik ULMWP: Mari Kita Bekerja Menyiapkan Bahan Makanan Menghadapi Situasi Hari Esok” itu diterima Wagadei.id di Nabire, Papua Tengah, Senin (16/3/2026),
Seruan itu dikeluarkan Pemimpin Eksekutif ULMWP Periode 2023–2028, Menase Tabuni President Executive, Octovianus Mote Wakil President Executive, dan Markus Haluk Secretaris Executive.
Tanggal 6 Maret 2026 lalu, ULMWP menyerukan seruan spiritual, agar memulai doa pada Jam Kerahiman Ilahi setiap hari pada pukul 3 sore.
Kini, ULMWP kembali menyerukan kepada bangsa Papua, untuk menyiapkan bahan makanan masing-masing sebagai bekal hidup dalam menghadapi pelbagai kemungkinan risiko terburuk di Tanah Papua dan dalam kehidupan orang Papua.
ULMWP bahkan mengajak semua orang Papua, untuk melakukan beberapa hal, diantaranya:
1. Kembali peganglah alat-alat kerja kita, mengolah tanah, bekerjalah di kebun menanam bahan makanan tradisional Melanesia–West Papua.
2. Pangkurlah sagu sebagai makanan asli kita, dan siapkanlah dalam jumlah yang cukup.
3. Pohon sagu yang telah ditebang habis oleh pemerintah kolonial Indonesia demi kepentingan industri, perkebunan sawit, persawahan, dan perumahan, carilah lokasi-lokasi baru untuk menanam sagu dan bahan makanan tradisional lainnya.
4. Peliharalah hewan ternak sebagai sumber protein: babi, sapi, ayam, telur.
5. Carilah dan siapkanlah hasil laut dan danau, khususnya segala jenis ikan.
ULMWP juga mengajak anak muda, bapa-mama dan seluruh unsur di Tanah Papua.
- Kepada para bapa dan seluruh kaum laki-laki Bangsa Papua, dimanapun dan dalam keadaan apa pun, bangkit dan lakukanlah secara sadar serta bertanggung jawab sebagai seorang bapa dalam kelangsungan hidup keluarga dan bangsa.
- Kepada ibu-ibu dan seluruh kaum perempuan Papua, mulailah berhemat dan mencicil bahan makanan yang diperlukan keluarga.
- Kepada anak-anak dan kaum muda Bangsa Papua, bersiaplah untuk hadapi semua hal, membela tanah airmu dan hentikanlah mental boros dan kebiasaan banyak jajan. Mulailah serius menyimpan dana di rumah atau tempat yang aman untuk dapat dipergunakan dalam situasi-situasi mendesak.
- Kepada para pemimpin, tokoh adat, dan tokoh perempuan dari masing-masing klan, subsuku, hingga suku: arahkanlah anggota suku dan komunitasmu untuk menjaga diri, bekerja di kebun, dan menyiapkan makanan apabila masa sulit tiba.
- Kepada para pemimpin agama, serukanlah dari mimbar-mimbar resmi untuk mengarahkan umat sungguh-sungguh berdoa memohon belas kasih dan perlindungan Tuhan bagi keluarga, agama, dan Bangsa Papua. Mintalah umat untuk berdoa pada Jam Kerahiman Ilahi setiap pukul 3 sore.
- Kepada para pejuang, organisasi taktik dan strategis perlawanan Bangsa Papua di bidang sipil-politik, pertahanan, dan diplomatik, dimanapun berada, kami meminta agar masing-masing tuan-puan melakukan koordinasi dan konsolidasi internal, untuk berdoa dan bekerja menyiapkan bahan makanan. Hentikan segala perdebatan, tinggalkan ego pribadi. Mari kita laksanakan doa dan kerja dengan sungguh-sungguh, memperkuat eksistensi persatuan melalui rekonsiliasi dan doa, agar Tuhan menyatukan kita dalam satu persekutuan Papua yang sejati, lahir dari sikap tobat kita masing-masing demi mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan politik Bangsa Papua.
- Kepada saudara-saudari bangsa Indonesia dan warga negara lain yang berada di Tanah Air West Papua, kami sampaikan: bersiaplah, berhematlah, dan dukunglah seruan ini. Saudara dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di tanah ini. Karena itu, saudara memiliki kewajiban moral dan material untuk mendukung seruan ini dan perjuangan pembebasan nasional Bangsa Papua. Ingatlah, perjuangan Bangsa Papua tidak mengenal rasisme. Kami berjuang demi masa depan, masa depan kita semua. Inilah saat yang tepat untuk mengikuti seruan ini, untuk berpartisipasi dengan segenap potensi yang ada, bekerjasama, dan membantu menyelamatkan tanah, manusia, dan hutan Papua.
ULMWP menyebutkan, seruan ini lahir pertama-tama dari situasi nyata, yang sedang dihadapi orang Papua di tengah pendudukan Indonesia: Bangsa Papua terus terkepung, tertindas, dan dibunuh tanpa ampun.
“Di saat yang sama, kita diingatkan untuk tidak melupakan sejarah identitas dan spiritualitas kepada Tuhan yang menciptakan dan menempatkan kita di tanah ini dengan kembali kepada makanan tradisional,” demikian ULMWP.
Selain itu, seruan ini dikeluarkan karena situasi politik dunia tidak sedang baik-baik saja. Konflik Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, Rusia melawan Ukraina, sedang berkobar.
“Dampaknya mulai kita rasakan: banyak negara, termasuk Indonesia, mengalami defisit anggaran yang tidak sedikit. Harga bahan bakar minyak akibat ketegangan di Timur Tengah mulai terasa. Kemungkinan ke depan bisa lebih sulit dari saat ini mungkin melebihi krisis moneter dan ekonomi di Indonesia tahun 1998,” demikian seruan tersebut.
Bahkan, lanjut ULMWP, eskalasi konflik ini dapat memicu Perang Dunia Ketiga, atau perang nuklir antara negara-negara besar. Akibatnya akan melahirkan situasi krisis ekonomi, kemanusiaan, dan bencana ekologis yang mengerikan bagi seluruh umat manusia di planet bumi ini, tanpa terkecuali.
Dalam menghadapi kemungkinan ancaman semacam itu, orang Papua diajak untuk sungguh-sungguh berdoa setiap hari pukul 3 sore dan bekerja di kebun menyiapkan bahan makanan. []
