Nabire, WAGADEI – Kabar membanggakan datang dari dunia sepak bola di tanah air, khususnya dari wilayah pegunungan Papua Tengah. Klub Persipani Paniai secara resmi memastikan langkahnya melaju ke babak 32 Besar Liga 4 Nasional setelah melewati serangkaian pertandingan yang ketat di putaran regional. Namun, pencapaian ini tidak hanya berhenti pada kelolosan tim saja—ia sekaligus mencatatkan sejarah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya di kancah persepakbolaan Indonesia.
Di balik keberhasilan tim berjuluk Laskar Koteka dari Wissel Meren ini, ada nama yang menjadi sorotan utama, yakni Yampit Nawipa. Bupati Kabupaten Paniai ini tidak hanya berperan sebagai pendukung dan penggagas semangat olahraga di daerahnya, melainkan juga turun langsung ke lapangan sebagai salah satu pemain inti di lini depan. Dengan keikutsertaannya ini, Yampit Nawipa resmi tercatat sebagai bupati pertama sepanjang sejarah yang tampil sebagai pemain aktif di kasta terendah kompetisi resmi sepak bola nasional, Liga 4.
Perjalanan Persipani Paniai menuju babak 32 Besar bukanlah hal yang mudah. Sebagai wakil dari wilayah pegunungan yang memiliki tantangan geografis dan akses terbatas, tim ini harus berjuang keras melewati babak kualifikasi tingkat provinsi dan zona. Semangat kebersamaan yang terjalin di antara para pemain, ditambah dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah daerah justru telah menjadi modal utama yang mengantarkan mereka meraih tiket menuju babak nasional.
Dalam setiap pertandingan, Persipani Paniai menampilkan permainan yang tangguh dan pantang menyerah. Kehadiran Yampit Nawipa di antara para pemain muda memberikan dampak ganda bahwa di satu sisi ia memberikan pengalaman dan semangat kepemimpinan, di sisi lain ia membuktikan bahwa olahraga dapat menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang jabatan atau usia.
Sejarah Tercipta: Jabatan dan Hobi Berpadu di Lapangan
Keterlibatan langsung Bupati Yampit Nawipa sebagai pemain menuai beragam tanggapan positif dari pengamat sepak bola, masyarakat, maupun pengurus PSSI. Selama ini, pejabat daerah biasanya hanya berperan sebagai pelindung, pembina, atau pendukung tim kesayangan mereka. Namun, Yampit Nawipa memecah tradisi tersebut dengan menunjukkan kecintaannya pada sepak bola secara nyata.
“Saya bermain bukan karena ingin menonjolkan jabatan, melainkan sebagai wujud kecintaan saya pada olahraga dan semangat untuk memotivasi anak-anak muda di Paniai agar rajin berolahraga dan menjauhi hal-hal negatif,” kata Yampit Nawipa belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan tim ini adalah milik seluruh masyarakat Paniai yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil selama proses persiapan.
Ketua harian Asprov PSSI Papua Tengah Deinas Geley juga turut memberikan apresiasi atas pencapaian ini. “Ini adalah sejarah yang membanggakan. Persipani Paniai telah membuktikan bahwa tim dari daerah terpencil pun bisa bersaing di tingkat nasional. Lebih dari itu, keikutsertaan Bapak Bupati sebagai pemain memberikan pesan kuat bahwa sepak bola adalah milik semua orang,” ujar Deinas Geley.
Dengan lolosnya Persipani Paniai ke babak 32 Besar Liga 4 Nasional, harapan baru tumbuh di hati masyarakat Paniai dan Papua Tengah. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi klub-klub lain di wilayah timur Indonesia untuk terus berkembang dan menunjukkan bakat mereka di panggung nasional.
Sementara itu, catatan sejarah yang diukir oleh Yampit Nawipa diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pemimpin daerah untuk aktif memajukan olahraga, baik melalui dukungan kebijakan maupun keteladanan. Sepak bola bukan hanya soal kemenangan di lapangan, tetapi juga sarana mempersatukan bangsa, memajukan daerah, dan menciptakan generasi muda yang sehat dan berkarakter.
Persipani Paniai kini bersiap menghadapi tantangan yang lebih berat di babak selanjutnya. Apapun hasilnya nanti, tim ini telah membawa kebanggaan tersendiri dan menorehkan cerita unik yang akan selalu dikenang dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Wagi, Wagi, Wagi!! (*)
