Deinas Geley – Tokoh Dibalik Lahirnya Kabupaten Puncak

DI TENGAH hamparan pegunungan tinggi Papua Tengah, di mana kabut sering menyelimuti lembah dan puncak gunung, berdiri sebuah daerah otonom bernama Kabupaten Puncak. Kabupaten Puncak resmi dimekarkan pada tanggal 4 Januari 2008 melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008. Daerah ini merupakan pemekaran dari wilayah induknya, yaitu Kabupaten Puncak Jaya. Wilayah ini kini tumbuh dan berkembang, membawa harapan baru bagi ribuan manusia yang mendiami tanah Ilaga, Beoga, Gome, Sinak dan lainnya. Namun di balik nama, batas wilayah, dan status kabupaten yang sah secara hukum, tersimpan satu kisah perjuangan panjang, keteguhan hati dan pengorbanan seorang putra daerah. Ia adalah Deinas Geley, sosok yang tak terpisahkan dari sejarah lahirnya Kabupaten Puncak, sosok yang pantas disebut sebagai arsitek dan bapak pemekaran wilayah tersebut bersama Lukas Enembe yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya.

 

Bacaan Lainnya

Sebelum tahun 2008, wilayah yang kini bernama Kabupaten Puncak masih merupakan bagian tak terpisahkan dari Kabupaten Puncak Jaya. Saat itu, ibu kota pemerintahan berada di Mulia, jarak yang sangat jauh, terpisah oleh gunung dan lembah, serta akses jalan yang sulit bahkan nyaris terputus saat musim hujan. Bagi masyarakat yang tinggal di Ilaga dan sekitarnya, mengurus urusan pemerintahan, pendidikan atau kesehatan harus pergi ke Mulia, itu adalah perjalanan berat yang memakan waktu berhari-hari. Pembangunan terasa lambat, pelayanan publik sulit dijangkau dan aspirasi rakyat sering kali belum tersampaikan dengan baik.

 

Dari rasa kesulitan dan kerinduan akan pelayanan yang lebih dekat dan lebih baik, lahirlah mimpi besar – memekarkan wilayah ini menjadi kabupaten sendiri .

 

Di saat masyarakat sedang mencari pemimpin yang berani, cerdas dan memiliki hati untuk memperjuangkan nasib mereka, muncullah nama Deinas Geley. Pria yang lahir di Paniai pada tanggal 16 Desember 1975, tumbuh besar di tanah Pegunungan Tengah, Deinas bukanlah orang asing bagi rakyat. Ia adalah putra asli tanah ini, orang yang mengerti betul rasa lelah, rasa susah dan harapan besar saudara-saudaranya di pegunungan.

 

“Foto ini dokumentasi tim pemekaran Kabupaten Puncak saat lobi ke DPR-MPR RI di Jakarta, tanggal 16 Mei 2005,” kata Deinas Geley saat mengirimkan sebuah foto kepada wartawan melalui pesan WhatsApp.

 

 

Kabupaten Puncak dimekarkan dari Kabupaten Puncak Jaya berdasarkan UU No. 7 Tahun 2008. Tapi, kata Deinas, proses perjuangannya sudah mulai jauh sebelumnya yakni sekitar tahun 2005. Tim tersebut tugasnya mengurus berkas, lobi politik, dan meyakinkan DPR/MPR bahwa Puncak layak jadi kabupaten sendiri.

 

Siapa saja yang di dalam foto

Di dalam sebuah foto berbingkai warna kuning keemasan itu ada Lukas Enembe, S.IP, DIP.CL, waktu itu Wakil Bupati Puncak Jaya (alm. Gubernur Papua), ada Pendis Enumbi, SE Ketua Komisi C DPRD Puncak Jaya dari Partai PDK, (mantan anggota DPR provinsi Papua), Kope Wonda, S. PAK Ketua Fraksi DPRD dari Partai PAN Puncak Jaya (Saat ini menjabat Staf Ahli DPR Papua Tengah), Alm. Malkias Kiwak, S.Th, MA tokoh masyarakat, Dhayinata Geley S. Sos, saat itu merupakan Tokoh Pemuda (Nama sebenarnya adalah Deinas Geley, S.Sos., MS.i yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua Tengah), Raky D. Ambrawu, S. Sos, Msi tim kajian daerah pemekaran (mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua), dan Willem Wandik, SE, M.Si tim kajian daerah pemekaran (Mantan Bupati Puncak dua periode)

 

“Ini kami foto di area DPR/MPR Senayan Jakarta, saat itu kita lagi pengawalan RUU pemekaran,” ujarnya mengenang.

 

Usaha mereka berhasil

 

Kabupaten Puncak resmi terbentuk 2008, ibukotanya di Ilaga. Berdasarkan foto dan video tersebut bahwa benar Deinas Geley, S.Sos., M.Si merupakan tokoh pejuang yang membuat terbentuknya kabupaten Baru saat itu yaitu kabupaten puncak Puncak.

 

Tanggal 25 Mei 2026 rombongan Gubernur Meki Nawipa meresmikan Elvis Tabuni Guest House di Ilaga, sekaligus meletakan batu pertama pembangunan Kantor Bupati dan kantor DPRK Puncak. Pada momen itu Deinas Geley juga turut meletakan Batu Pertama pembangunan Kantor bupati dan kantor DPRK kabupaten Puncak.

 

“Merupakan bukti jelas bahwa perjuangan seorang saya (Deinas Geley , S.Sos, M.Si selaku Wagub Papua Tengah membuahkan hasil yang indah,” kata Deinas.

Saat itu, di awal tahun 2000-an, Deinas menjabat sebagai Ketua Gabungan Pengusaha Nasional Indonesia (GAPENSI) Kabupaten Puncak Jaya. Posisi ini menjadikannya jembatan strategis dirinya mengenal rakyat, memahami potensi daerah dan memiliki akses serta kemampuan berbicara di tingkat birokrasi maupun politik, baik di tingkat daerah, provinsi, hingga pusat.

 

Deinas sadar benar, bahwa pemekaran bukan sekadar soal memisahkan wilayah atau membagi peta administrasi. Baginya, pemekaran kabupaten adalah soal keadilan, kedekatan dan masa depan. Ia sering mengingatkan semua pihak; “Kita tidak ingin memisahkan diri dari saudara kita di Puncak Jaya. Kita ingin menjadi kabupaten agar kita lebih dekat dengan pemerintah, agar setiap rupiah anggaran, setiap program pembangunan, bisa sampai lebih cepat ke kampung-kampung, ke setiap keluarga, demi anak cucu kita.” Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar utama seluruh perjuangan bersama timnya.

 

Sebagai tokoh yang paham tentang masa depan bangsa, Deinas memimpin langkah-langkah nyata. Ia tidak hanya duduk di ruangan, melainkan turun langsung ke lapangan. Ia berjalan kaki, naik kendaraan, menembus hutan dan lembah, mengunjungi setiap distrik, setiap kampung, berbicara dengan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga mama-mama. Ia mengumpulkan aspirasi, menyatukan visi, dan mengumpulkan ribuan tanda tangan dukungan. Di saat banyak orang ragu atau takut, Deinas tampil tegap. Ia menyatukan beragam elemen masyarakat yang kadang memiliki pandangan berbeda, menjadi satu tekad bulat: “Kabupaten Puncak Harus Ada.”

 

Perjuangan tidak berhenti di tanah Ilaga. Tantangan terbesar justru ada di meja birokrasi di Jayapura hingga Jakarta. Selama bertahun-tahun, Deinas menjadi juru bicara utama, wakil sah seluruh rakyat wilayah Puncak. Ia bersama tim bolak-balik naik pesawat, menempuh perjalanan panjang, menghadap pejabat tinggi, anggota DPRD Papua, Kementerian Dalam Negeri, hingga anggota DPR RI dan MPR RI. Ia membawa data lengkap: letak geografis yang sulit, jumlah penduduk, potensi sumber daya alam yang besar, hingga alasan yuridis dan sosiologis yang kuat mengapa pemekaran sangat diperlukan. Ia menyusun dokumen demi dokumen, menjawab setiap pertanyaan, meluruskan setiap keraguan, dan meyakinkan semua pihak bahwa wilayah ini siap, mampu dan berhak menjadi daerah otonom baru.

 

Ada masa-masa berat, saat harapan sempat surut, saat birokrasi berjalan lambat atau muncul hambatan dari berbagai arah. Namun Deinas tidak pernah mundur. Ia meyakinkan rakyat: “Kalau kita menyerah sekarang, anak cucu kita akan terus merasakan kesulitan yang sama. Mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan.” Keteguhan hati, kesabaran, dan kecerdasan Deinas inilah yang akhirnya meluluhkan segala rintangan.

 

Sejarah baru terukir 

 

Pada 4 Januari 2008, sejarah baru terukir. Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Puncak, Provinsi Papua. Secara resmi, wilayah Ilaga, Beoga, Gome, Sinak, dan Mageabume kini berdiri sendiri sebagai kabupaten baru, dengan ibu kota di Ilaga. Peresmian dilakukan Menteri Dalam Negeri pada 21 Juni 2008. Kabar itu menyebar bagai kilat ke seluruh penjuru lembah. Rakyat bersorak, menangis haru, menari dan bernyanyi syukur. Di tengah sukacita itu, nama Deinas Geley dipuji dan disebut-sebut. Rakyat sadar: Tanpa keteguhan, kecerdasan, dan pengorbanan Deinas Geley, mimpi ini mungkin hanya akan tetap menjadi mimpi. Ia diakui secara alam bawah sadar dan hati nurani rakyat sebagai Bapak Pemekaran Kabupaten Puncak .

 

Namun bagi Deinas Geley, tugas belum selesai, justru baru dimulai. Setelah lahirnya kabupaten, ia tidak pergi atau berhenti berkarya. Justru semangatnya makin membara untuk membangun daerah yang telah diperjuangkannya itu. Karier dan pengabdiannya terus berlanjut: ia kembali menjabat Ketua GAPENSI Kabupaten Puncak Jaya periode 2012–2018, menggerakkan ekonomi dan dunia usaha lokal. Kemudian, kepercayaan rakyat makin besar, yakni pada tahun 2017–2022, ia terpilih menjadi Wakil Bupati Puncak Jaya mendampingi Bupati Yuni Wonda, di mana ia menjaga hubungan baik antarkabupaten dan terus memperjuangkan pembangunan merata di Pegunungan Tengah .

 

Puncak pengabdiannya tercapai saat ini. Pada tahun 2024, Deinas Geley terpilih dan dilantik sebagai Wakil Gubernur Papua Tengah, mendampingi Gubernur Meki Frits Nawipa (periode 2025–2030). Kini tanggung jawabnya lebih luas, membangun seluruh provinsi, namun hatinya tetap tertambat kuat di Kabupaten Puncak. Di setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan pejabat dan generasi muda: “Jangan lupa sejarah, jangan lupa perjuangan. Kabupaten Puncak lahir dari keringat dan air mata rakyatnya. Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan pembangunan nyata, pendidikan maju, kesehatan terjamin, dan kesejahteraan yang adil bagi semua.”

 

Kini, Kabupaten Puncak telah berusia lebih dari 18 tahun. Infrastruktur jalan, jembatan, bandara, gedung sekolah, puskesmas, hingga pasar-pasar mulai tumbuh. Sebagai gerbang menuju Puncak Cartensz, pariwisata mulai digarap serius, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Perubahan ini terjadi karena status otonomi yang diperjuangkan Deinas dan rakyat. Tanpa otonomi, anggaran, kewenangan, dan kecepatan pembangunan tidak akan secepat dan sebesar sekarang.

 

Warisan Lukas Enembe dan Deinas Geley 

 

Warisan terbesar Deinas Geley bukan sekadar status kabupaten di peta. Warisan terbesarnya adalah bukti nyata bahwa satu orang yang memiliki cinta tanah air yang tulus, kecerdasan berpikir, kesabaran baja, dan dukungan rakyat, mampu mengubah sejarah nasib suatu wilayah. Ia mengajarkan kita bahwa kemajuan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan, dipikirkan, dan diusahakan dengan kerja keras, strategi matang, dan kebersamaan.

 

Hingga hari ini, setiap kali masyarakat Kabupaten Puncak menikmati pelayanan lebih cepat, melihat jalan mulus, atau anak-anak sekolah mendapatkan fasilitas lebih baik, di sanalah nama Deinas Geley kembali dikenang. Ia bukan sekadar pejabat tinggi negara, bukan sekadar politikus sukses, melainkan pahlawan pembangun, tokoh sejarah, dan bapak pendiri yang dicintai sepanjang masa oleh rakyat Kabupaten Puncak.

 

Kisah Deinas Geley adalah kisah tentang mimpi yang diperjuangkan sampai jadi nyata. Ia adalah bukti hidup: di tanah Papua, di antara pegunungan tinggi, lahir pemimpin besar yang lahir dari rahim rakyat, berjuang untuk rakyat dan hidup abadi di hati rakyatnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan