Jayapura, WAGADEI – Suara lirih dan tatapan gelisah terpancar jelas dari wajah dua keponakan Mama Yasinta Moiwend, yakni Ariston dan Esau. Pada hari Sabtu, 30 Mei 2026 sekitar pukul 14:30 WP, seorang aktivis kemanusiaan yang namanya tak disebutkan menemui keduanya di kawasan kompleks Jatijati, Merauke.
Kedua pemuda ini tampak tidak tenang, terlihat jelas beban berat dan rasa penyesalan mendalam menyelimuti hati mereka pasca viralnya pernyataan penolakan Mama Yasinta terhadap film dokumenter Pesta Babi, serta posisinya yang kini justru mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) — sikap yang dinilai keluarga sangat bertolak belakang dengan komitmen awal sang tante.
Dari percakapan mendalam sore itu, terungkap kronologi mengejutkan bagaimana sosok tua yang dihormati masyarakat adat ini menghilang dari kampung halamannya di Wanam, Merauke, hingga akhirnya muncul di Jakarta dengan pernyataan yang mengundang tanda tanya besar.
Ariston dan Esau menjelaskan, kepergian Mama Yasinta ke Jakarta sama sekali tidak diketahui oleh seluruh keluarga besar. Informasi pertama justru mereka dapatkan dari kedua adik laki-laki Mama Yasinta, yaitu Liborius dan Kansius yang masih tinggal di Wanam.
“Kejadian bermula pada Sabtu, 23 Mei 2026, sekitar pukul 15.00 sore. Hari itu, Mama Yasinta tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Awalnya keluarga tidak terlalu khawatir, namun saat malam tiba dan ia belum pulang, kepanikan mulai melanda. Liborius dan Kansius beserta warga lain sudah mencarinya ke seluruh tetangga, bahkan menyisir wilayah Kampung Wanam hingga ke Kampung Wogekel, namun tidak ditemukan jejaknya,” katanya.
Kepanikan semakin menjadi setiap kali mereka mencoba menghubungi nomor ponsel Mama Yasinta, jawaban yang terdengar selalu sama: “Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan.” Pencarian berlanjut sepanjang malam hingga pagi hari Minggu, 24 Mei, namun tetap nihil, tidak ada kabar sedikitpun.
Fakta mulai terkuat sekitar pukul 08.00 pagi tanggal 24 Mei, saat keluarga mendapat informasi dari anak angkat Mama Yasinta. Anak itu menceritakan bahwa siang hari tanggal 23 Mei, Mama Yasinta memintanya untuk mengantar barang-barang pakaian dan perlengkapannya ke arah “Pos”, dengan alasan ia hendak berangkat ke Merauke menggunakan kapal laut. Sang anak pun mengantar barang-barang tersebut menuju Pos Polisi.
Namun, hal tak terduga terjadi. Saat melewati dekat Pos Kopasus Mandala, Mama Yasinta justru memanggilnya dari sana. Ia diminta menyerahkan tas pakaian dan barang-barang lainnya. Di situlah anak angkat itu melihat jelas, Mama Yasinta berada di dalam pos militer tersebut dan berniat bermalam di sana. Ia sendiri tidak sempat mengambil kembali barang-barang yang sempat ditaruh di Pos Polisi, karena yang datang mengambil barang tersebut adalah dua anggota Kopasus atas perintah langsung Komandan Pos.
Berita ini membuat keluarga terkejut dan bingung, namun kenyataan selanjutnya justru jauh lebih mengerikan.
Naik Pesawat Perusahaan Didampingi Aparat dan Pejabat
Keluarga kembali dikejutkan dengan informasi baru yang beredar di masyarakat, bahwa beberapa warga melihat Mama Yasinta menaiki pesawat jet milik perusahaan besar di wilayah itu. Yang membuat bulu kuduk berdiri, ia tidak pergi sendirian. Ia didampingi langsung oleh Ibu Kepala Distrik Wanam dan Komandan Pos (Danpos) Kopasus Mandala. Pesawat itu diketahui terbang dengan rute: Tanah Merah, Boven Digoel lalu lanjut ke Timika.
Dengan adanya berita-berita yang saling silang dan penuh teka-teki itu, seluruh keluarga semakin bingung dan cemas. Seharian hingga malam tanggal 25 Mei, mereka terus mencoba menelepon, namun nomor Mama Yasinta tetap mati dan tidak bisa dihubungi. Bayangan ke mana, untuk apa, dan dalam kondisi apa ia dibawa, menghantui pikiran setiap anggota keluarga.
Muncul di Media Sosial: “Dia Bukan Tante Kami yang Kami Kenal”
Puncak kebingungan terjadi sekitar pukul 00.00 dini hari tanggal 26 Mei. Esau, yang sedang membuka media sosial, terbelalak kaget. Di layar ponselnya, wajah tante kesayangannya ada di sana, sedang diwawancarai di Jakarta. Di hadapan kamera, Mama Yasinta menyatakan dengan tegas: menolak keberadaan film Pesta Babi dan sepenuhnya menerima serta mendukung PSN.
Esau langsung membagikan postingan tersebut ke seluruh grup keluarga. Reaksi mereka serentak: Tidak percaya. “Itu bukan suara dan sikap Mama Yasinta yang kami kenal. Ia adalah orang yang paling vokal mempertahankan tanah ulayat kami, yang paling keras menolak tanah kami dijadikan perkebunan. Ini aneh, sangat aneh,” ujar Ariston dengan nada sedih.
Dua hari kemudian, pada tanggal 28 Mei, kebenaran di kampung Wanam semakin terang. Kedua adik Mama Yasinta, Liborius dan Kansius, didatangi oleh Ibu Kepala Distrik dan Komandan Pos Kopasus Mandala. Diketahui, keduanya baru saja tiba dari Merauke menggunakan helikopter milik perusahaan.
Dalam pertemuan itu, Komandan Pos tersebut memberi kabar bahwa Mama Yasinta ingin berbicara dengan mereka. Namun ada syarat, yaitu pembicaraan harus dilakukan menggunakan ponsel milik Komandan, bukan ponsel pribadi.
Saat berbicara, nada bicara Mama Yasinta terdengar berbeda. Ia menyatakan bahwa dirinya sekarang sudah “berada di pihak perusahaan”. Lebih mengejutkan lagi, ia mengajak kedua adiknya untuk segera mengirimkan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), karena perusahaan akan menguruskan tiket pesawat ke Jakarta. Alasannya: “Supaya kalian bisa segera datang dan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, Pak Prabowo Subianto.”
Permintaan dan ajakan itu dianggap Liborius dan Kansius sangat janggal dan mencurigakan. Tanpa berpikir panjang, keduanya menolak mentah-mentah dan tidak menanggapi ajakan tersebut.
Kesan Keluarga: Ditekan, Dipaksa, dan Dimanfaatkan
Dari seluruh rangkaian kejadian yang ganjil ini, keluarga besar Moiwen hanya memiliki satu kesan kuat: Mama Yasinta dibawa pergi, diberangkatkan ke Jakarta dalam keadaan tertekan dan dipaksa.
Mereka meyakini adanya rekayasa besar. Mama Yasinta, seorang lansia yang sering sakit-sakitan, diduga kuat dipaksa berubah sikap di bawah pengaruh dan tekanan pihak perusahaan, serta perlindungan pimpinan pengawal keamanan perusahaan dalam hal ini aparat militer di Pos Wogekel. Belum lagi keterlibatan Ibu Kepala Distrik sebagai pejabat pemerintah setempat yang seharusnya melindungi rakyat, justru dianggap turut andil dalam skenario ini.
Rencana Susul ke Jakarta dan Ajak Pulang
Karena keyakinan bahwa sang tante sedang tidak bebas, keluarga mengambil keputusan tegas. Perwakilan keluarga akan segera menyusul ke Jakarta. Rencananya akan ada tuga orang yang berangkat, satu orang anak kandung Mama Yasinta, satu orang adik kandungnya, dan satu keponakan (Ariston atau Esau). Mereka akan didampingi dan dikawal oleh Kuasa Hukum keluarga.
Tujuan utama kedatangan mereka ke Jakarta sangat jelas dan sederhana, ialah mengajak Mama Yasinta pulang kembali ke Merauke, ke kampung halamannya di Wanam.
“Kami ingin Tante pulang agar tidak terlibat lagi pada segala hal, baik itu mendukung atau melawan PSN. Kami ingin Mama Yasinta kembali hidup seperti warga lain di Wanam: hidup tenang, damai, dan sejahtera. Apalagi beliau sudah tua, sering sakit-sakitan, sudah sepatutnya istirahat, bukan dibawa-bawa ke Jakarta untuk bicara hal yang tidak dia mengerti,” ungkap Esau dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menceritakan seluruh kronologi menyakitkan ini, Ariston dan Esau mengajak saya untuk tetap duduk bersama. Mereka berniat mengadakan jumpa pers terbuka, menceritakan hal yang sama kepada awak media lainnya agar kisah ini kembali diviralkan, namun kali ini dengan versi kebenaran dari sisi keluarga.
“Inilah sedikit cerita singkat sebagai bentuk kronologi yang kami terima langsung dari pihak keluarga, untuk diketahui oleh masyarakat luas. Kami ingin publik tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Mama Yasinta Moiwend,” kata mereka.
Kini, mata publik tertuju pada langkah keluarga Moiwend. Apakah mereka berhasil menemui dan membawa pulang Mama Yasinta? Apakah kebenaran di balik perubahan sikap drastis wanita tua ini akan terungkap seluruhnya? Kita tunggu kelanjutannya. (*)
