Jangan Biarkan Konflik Memadamkan Cahaya Pendidikan di Intan Jaya

Bagian I

Intan Jaya, WAGADEI — Di tengah wilayah yang kerap didahului berita ketegangan, ada satu hal yang tetap tegak dan tak tergoyahkan, yakni semangat anak-anak Intan Jaya untuk terus belajar di SD YPPK Bilogai. Di balik jendela ruang kelas sederhana, harapan masa depan tetap dinyalakan setiap pagi meski kadang disertai rasa takut. Saat Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, SH tiba di Sugapa pada hari Selasa, tanggal 15 September 2026, meninjau langsung sarana pendidikan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Tillemans. Pesan Gubernur Nawipa sangat jelas; “di tengah dinamika apa pun, pendidikan tetap menjadi prioritas dan cahaya yang tak boleh padam”.

 

Kehadiran Gubernur disambut apresiasi tinggi oleh Ketua Pengurus Sekolah Wilayah (PSW) YPPK Tillemans Intan Jaya sekaligus Pastor Dekan Dekanat Moni Puncak Jaya, Pastor Yance Yogi, Pr. Ia menyampaikan terima kasih mendalam atas dukungan pemerintah melalui program Sekolah Sepanjang Hari (SSH), yang berjalan berkolaborasi dengan PSW YPPK dan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya atas dukungan Gubernur Nawipa.

“Terima kasih Pak Gubernur telah membantu kami dengan program Sekolah Sepanjang Hari atau SSH. SSH sudah di-launching dari tahun lalu dan sampai hari ini, program ini berjalan dengan baik,” ujar Pastor Yance.

 

Berpusat di SD YPPK Bilogai, program ini melibatkan sekitar 500 siswa-siswi dan menyediakan makanan tiga kali sehari, didominasi bahan lokal seperti keladi, petatas, ubi ungu, singkong dan sayur yang dilengkapi dengan bubur kacang ijo, nasi, ayam, telur dan ikan pada hari-hari tertentu. Karena ketersediaan guru yang memadai, SSH juga melayani siswa dari SD YPPK Jalai, SD YPPK Titigi, SD YPPK Sanepa, dan SD YPPK Bilai di distrik Homeyo.

Namun keberhasilan SSH justru menampakkan keterbatasan mendesak, bahwa gedung sekolah sudah tak mampu menampung lebih dari 500 siswa. Ruangan Kepala Sekolah dan kantor PSW pun kini dipakai sebagai kelas belajar.

 

“Kami sudah rancang bangunan sekolahnya dan telah sampaikan ke Bapak Gubernur. Karena jumlah siswanya lebih dari 500 orang sehingga tak muat. Kami sampai gunakan ruangan kepala sekolah dan kantor PSW sebagai tempat belajar,” ungkap Pastor Yance dengan nada prihatin.

 

Kondisi semakin mendesak karena sekolah-sekolah negeri di Intan Jaya hampir tidak beroperasi, menjadikan sekolah milik yayasan seperti YPPK Tillemans satu-satunya harapan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

 

Konflik Mungkin Datang, Tapi Pendidikan Tak Boleh Berhenti

 

Intan Jaya adalah wilayah yang kaya budaya dan alam, namun kerap dihantui bayang-bayang ketegangan. Laporan penangkapan warga sipil, operasi militer, dan suara tembakan sesekali terdengar. Bagi banyak orang di luar, Intan Jaya identik dengan ketidakpastian. Tapi bagi ribuan anak muda di sini, ini adalah rumah sekaligus tempat mereka bermimpi menjadi guru, dokter bahkan menjadi pemimpin masa depan.

“Kami tetap datang ke sekolah meskipun kadang kami takut. Tapi kami tahu, kalau kami berhenti belajar, berarti kami kalah. Dan kami tidak mau kalah,” ujar seorang siswa di Sugapa.

 

Konflik mungkin bisa menunda pembangunan jalan, bisa menunda pengiriman barang. Tapi pendidikan tidak boleh ditunda. Pendidikan tidak boleh menjadi korban pertama dari setiap ketegangan.

 

Kepala SD YPPK Bilogai, Stefanus Sondegau mengungkapkan, pihaknya telah berusaha menjaga sekolah tetap berjalan apa pun yang terjadi.

 

“Tapi kami butuh dukungan, bukan hanya dana, tapi juga suasana yang kondusif. Anak-anak kami butuh merasa aman saat belajar,” kata Stefanus Sondegau.

 

Kedatangan Gubernur untuk ketiga kalinya dalam dua tahun telah membawa peletakan batu pertama asrama, peresmian genset untuk listrik 24 jam, penyerahan bantuan motor, serta dialog langsung dengan masyarakat adalah bukti pemerintah tidak berpaling.

 

“Jangan biarkan konflik memadamkan cahaya pendidikan di Intan Jaya. Karena pendidikanlah yang akan menyelesaikan semua masalah ini di masa depan,” kata Gubernur Meki Nawipa.

Menjawab kondisi mendesak, Pastor Yance Yogi menyampaikan permohonan resmi kepada Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Bupati Intan Jaya untuk membangun gedung sekolah baru yang layak dan memadai. Ia juga berharap rencana pembangunan asrama negeri bagi anak-anak SD dan SMP kelak menjadi pusat pendidikan baru yang melengkapi dan memperkuat sistem pendidikan di Intan Jaya.

 

Di Distrik Hitadipa, pesan yang sama disampaikan, perdamaian dan pembangunan harus berjalan beriringan. Sekolah harus tetap berdiri tegak, karena di sanalah masa depan Intan Jaya sedang dibangun bahwa satu huruf, satu angka, satu mimpi pada satu waktu.

 

Konflik mungkin datang dan pergi. Tapi jika cahaya pendidikan tetap dijaga bersama, Intan Jaya akan tetap bersinar. Dan itu adalah janji yang harus ditepati untuk setiap anak, untuk setiap keluarga dan untuk seluruh tanah Intan Jaya yang kita cintai. (*)

Bersambung….

Pos terkait

Tinggalkan Balasan