Perkuat Layanan HIV dan TB, Dinkes Papua Tengah Gelar Clinical Mentoring Evaluation Meeting di Nabire

Nabire, WAGADEI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah melaksanakan Clinical Mentoring Evaluation Meeting (BL.169) dalam rangka memperkuat mutu pelayanan HIV dan Tuberkulosis (TB), sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan lini depan di Puskesmas dalam memberikan pelayanan yang terintegrasi, berkualitas dan berkesinambungan. Kegiatan berlangsung di Hotel Mahavira II, Nabire pada hari ini, Kamis, (20/8/2026).

 

Kegiatan ini didukung oleh Global Fund telah dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Pingki Wardani mewakili Kepala Dinas Kesehatan dr. Agus itu didampingi Kepala Seksi P2M Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Isak Waine. Turut hadir Kepala Bidang P2P dan Kepala Seksi P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, serta para tenaga kesehatan dan pengelola program HIV dan TB dari fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Nabire.

Dalam arahannya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, yang disampaikan dr. Pingki Wardani ditegaskan bahwa penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh jajaran kesehatan. Pencapaian target global 95-95-95 harus diiringi peningkatan kualitas pelayanan secara menyeluruh dari penemuan kasus, diagnosis, pemberian ARV, pemantauan, pemeriksaan viral load hingga pencatatan dan pelaporan.

 

“Keberhasilan program HIV tidak cukup hanya dengan menemukan kasus. Kita harus memastikan setiap orang dengan HIV mendapatkan pelayanan yang berkesinambungan, pengobatan ARV, pemantauan, serta dukungan agar tetap patuh menjalani pengobatan,” katanya.

 

Ia juga menekankan agar kegiatan ini tidak berhenti pada laporan semata, melainkan menghasilkan perubahan nyata di fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Pertemuan ini menjadi ruang bagi tenaga kesehatan untuk mengevaluasi pelaksanaan pelayanan HIV dan TB, mengidentifikasi kendala, berbagi pengalaman, serta menyusun solusi dan rencana tindak lanjut. Penguatan pencatatan dan pelaporan juga menjadi perhatian utama pada data yang lengkap, akurat dan tepat waktu adalah dasar kebijakan yang tepat.

 

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire berkomitmen terus memperkuat jejaring Puskesmas PDP dan integrasi layanan HIV-TB. Dengan dukungan Global Fund, diharapkan perbaikan pelayanan segera dirasakan masyarakat dalam pelayanan yang bermutu, terintegrasi, mudah diakses serta bebas dari stigma dan diskriminasi.

 

“Temukan kasus HIV dan TB sedini mungkin, segera berikan pengobatan dan pencegahan, perkuat layanan terintegrasi, dan pastikan tidak ada pasien yang terputus dari pelayanan,” katanya.

 

Pertemuan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan di Puskesmas dalam mengimplementasikan layanan HIV dan TB yang terintegrasi. Penguatan mencakup pemeriksaan HIV, skrining TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), koordinasi lintas program serta pencatatan dan pelaporan sesuai standar nasional.

 

Integrasi layanan HIV dan TB dinilai sangat krusial karena orang dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terkena TB. Setiap layanan HIV wajib melakukan skrining TB secara rutin, sementara pasien TB juga harus diperiksa HIV. Melalui pendekatan terintegrasi, diharapkan penemuan kasus lebih dini, pengobatan tepat sasaran dan kesinambungan pelayanan terjamin.

 

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat pelaksanaan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV di Kabupaten Nabire. Jejaring Puskesmas PDP HIV yang terlibat meliputi Puskesmas Wanggar Sari, Samabusa, Nabarua, Bumi Wonorejo, Karang Mulia, Siriwini, Karang Tumaritis, SP1 Kalibumi dan Nabire Kota.

 

Jejaring ini berperan penting dalam mendekatkan pelayanan HIV kepada masyarakat mulai dari pemeriksaan, konseling, pengobatan ARV, pemantauan pasien, pelayanan IMS, skrining TB, pemberian TPT, pemeriksaan laboratorium, hingga pencatatan dan pelaporan.

 

Penguatan Test and Treat dan TPT

 

Tenaga kesehatan didorong untuk memperkuat implementasi Test and Treat, sehingga pasien yang terdiagnosis HIV dapat segera memperoleh pengobatan ARV sesuai standar. Pemberian TPT juga menjadi prioritas: setiap pasien harus diskrining TB terlebih dahulu, dan yang memenuhi kriteria segera diberikan TPT sesuai pedoman nasional. Pelayanan HIV tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan komplikasi dan penyakit terkait. (*)

Pos terkait