“Belajarlah, Lalu Pulang Bawa Cahaya untuk Paniai”  

Paniai, WAGADEI — Di Lobi Setda Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah udara terasa hangat sekaligus menyayat hati. Tangan-tangan tua mengusap kepala anak-anak, mata yang berkaca-kaca menatap wajah-wajah muda yang siap melangkah jauh. Dua puluh siswa-siswi terbaik Paniai hari ini resmi dilepas oleh Bupati Yampit Nawipa. Itu bukan sekadar berangkat sekolah, melainkan membawa harapan seluruh daerah ke SMP Genius Tangerang.

 

Bupati Yampit Nawipa berdiri di hadapan mereka, tak hanya sebagai pejabat, melainkan sebagai orang tua yang melepas anak sendiri.

 

“Anak-anak ini adalah mutiara Paniai. Kami tanggung semuanya, mulai dari biaya sekolah, tempat tinggal, kebutuhan hidup. Tugas kalian cuma satu, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh. Jaga nama baik orang tua, jaga nama baik tanah kelahiran. Dan kelak, pulanglah dan bangunlah Paniai dengan ilmu yang kalian bawa pulang,” kata Bupati Yampit bergetar.

 

Beasiswa penuh ini adalah bukti nyata visi Paniai Cerdas dan Berdaya Saing, menurut Bupati Nawipa, pemerintah tak pelit mengeluarkan anggaran, karena masa depan daerah di tangan anak-anak ini.

 

SMP Genius Tangerang bukan sekolah biasa, namun dikenal dengan sistem asrama ketat, pembinaan karakter dan standar akademik yang bersaing di tingkat nasional. Artinya, 20 anak ini tak hanya belajar pelajaran, tapi juga ditempa menjadi pribadi yang tangguh, bermartabat dan siap bersaing dengan siapa pun dari mana pun.

 

Kepala Dinas Pendidikan Agus Kobepa menjelaskan, proses seleksi tak mudah, ketat dan transparan.

 

“Mereka yang berdiri di sini hari ini adalah yang terbaik dan kini pintu dunia terbuka bagi mereka,” kata Kobepa.

 

Di sudut ruangan, para bapak dan mama menahan tangis. Melepaskan anak ratusan kilometer jauhnya tak mudah. Namun saat Bupati Yampit berpesan agar terus mendoakan, maka keyakinan terpancar di wajah mereka.

 

“Pergilah, anak-anak. Jadilah orang berguna. Kami tunggu di sini, di tanah Paniai,” kata salah satu orang tua pelan.

 

Pemerintah hadir menanggung beban biaya, kini beban doa dan dukungan moral menjadi tugas bersama keluarga, masyarakat dan daerah.

 

Acara berakhir dengan pelukan hangat. Dua puluh anak melangkah keluar dengan punggung mereka tegap, membawa tas dan mimpi besar. Mereka pergi bukan untuk menetap di luar selamanya, melainkan untuk menimba ilmu, lalu pulang.

 

Karena Paniai tak butuh anak yang pergi dan lupa jalan pulang. Paniai butuh anak yang pergi, belajar lalu kembali membawa cahaya untuk menerangi kampung halamannya. (*)

Pos terkait