Nabire, WAGADEI – Persoalan tapal batas wilayah antara Kabupaten Mimika dengan Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah kembali menimbulkan konflik.
Ini bukan konflik biasa, namun berujung pada penyerangan, pembakaran beberapa rumah bahkan korban jiwa di area perbatasan Mimika-Deiyai pada Senin, (24/11/2025) lalu.
“Saya menyesal dgn tindakan yang di lakukan oleh masyarakat Kei Distrik Kapiraya, Kampung Mogodagi. Kami Suku Mee dan Kamoro sebelum tiba para misionaris Agama, pemerintah tiba di tanah Papua. Kami hidup rukun, damai, dan suda ada sampai detik ini. Kehidupan masyarakat adat Papua, tanah bukan sekadar tempat tinggal. Tanah adalah identitas, sejarah leluhur, sumber hidup, dan masa depan anak cucu,” ujar tokoh pemuda Deiyai, Petrus Badokapa kepada wagadei.id, Rabu, (26/11/2025)
Biasanya, lanjut Badokapa, suku Mee dan suku Kamoro telah lama menjalin hubungan kekerabatan yang sangat baik sejak tahun 40-an hingga saat ini. Buktinya, mereka melakukan barter, dari suku Mee antar kus-kus kepada suku Kamoro, demikan suku Kamoro antar ikan.
“Soal tapal batas suda ada jelas sampai saat ini. Nenek moyang suda tanam Kelapa dan buah merah. Suku Kamoro mereka tanam kelapa di perbatasan, Kalau Suku Mee kami tanam buah merah di perbatasan,” katanya.
Badokapa menegaskan soal tapal batas, Bupati Mimika jangan memutarbalik kebenaran. Pasalnya, kehidupan kedua suku berlangsung aman, damai dan harmonis sejak dulu kala.
“Kami tidak pernah bertikai. Jadi kemarin yang terjadi di Kampung Mogodagi (pembakaran dan pembunuhan) itu murni suku tertentu yang datang cari makan yang lakukan,” katanya.
“Orang itu stop, kamu bukan orang asli Papua. Provokator utama kejadian di Kapiraya adalah bupati Mimika. Jadi bapa bupati Mimika harus baik-baik. Kehidupan sebelum kami tidak pernah seperti kejadian tersebut, ” katanya.
Badokapa sebagai orang asli Kapiraya meminta bupati Mimika harus bertanggungjawab atas nyawa manusia yang korban.
“Engkau hanya orang (yang datang) tapi hancurkan tatanan kehidupan orang Papua terutama orang Mee antara suku Kamoro. Kau hanya butuh emas disana saja. Jadi kamu jangan bikin seperti tanah sendiri,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi wagadei.id belum mendapatkan pernyataan resmi dari Bupati Mimika, Johannes Rettop. (*)
