Wamena, WAGADEI – Warga di Wamena, Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan mengeluhkan harga beras yang terus melonjak naik.
Seorang warga Wamena, Lena, ketika ditemui di Pasar Kaget Jalan Irian, Wamena, mengatakan, harga beras bulog naik drastis. Harga beras tersebut berkisar antara Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per kilo.
“Harga beras terus naik sementara krisis uang di Wamena juga di seluruh Papua Pegunungan,” kata Lena kepada Wagadei di Wamena, Rabu (27/8/2025).
“Kami masyarakat biasa ini [di]buat susah, bagaimana kami mau hidup, uang sudah tidak beredar, harga beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari ini harga terus naik,” lanjut Lena.
Lena mengakui bahwa pihaknya ingin membeli beras sekarung berisi 50 kilo. Namun, ketika ditimbang ulang, isinya tidak sampai 50 kilo atau hanya 45 kilo.
“Tapi harganya tetap sama Rp 1.250.000 karena menggunakan karung 50 kg. Ini yang terjadi di kota Wamena, kemudian juga sama dengan karung beras 20 kg tapi isinya 18 kg tapi harganya tetap sama,” katanya.
Lena menilai pemerintah tidak kasihan pada rakyatnya.
“Pemerintah punya uang jadi anggap biasa, tapi masyarakatnya sangat prihatin dengan kondisi harga beras bulog semakin drastis,” katanya.
Lena mengatakan, harga beras yang mencekik leher terjadi di Wamena. Padahal Wamena merupakan pusat dari Provinsi Papua Pegunungan.
“Pusat kota saja begini apalagi di delapan kabupaten,” katanya.
Sementara itu, warga Wamena lainnya, Mama Berta meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan untuk menertibkan harga beras di pasar.
“Kami ini punya banyak kebutuhan; biaya anak pendidikan, biaya makan-minum dan lainnya,” kata Mama Berta di Pasar Sinakma, Kelurahan Sinakma, Distrik Wamena Kota.
Dia mencurigai ada pihak yang bermain, di balik kenaikan harga beras di Wamena.
“Harga beras ini siapa yang bermain, pemerintah atau, pedagang? Stop sudah! Jangan bikin setengah mati masyarakat,” ujarnya. (*)







