Oleh: Soleman Itlay*
Saya pernah membaca sejumlah dokumen, buku dan artikel di media sosial, yang menjelaskan tentang pos misi Katolik pertama di Tanah Papua. Salah satu tulisan yang saya baca adalah karya H. Haripranata yang diterbitkan pada 22 November 1967.
Haripranata adalah seorang imam Jesuit, yang ditugaskan secara khusus untuk bekerja di Irian Barat. Dari Jawa ia dikirim ke Jayapura. Tinggal di kantor YPPK, samping paroki Santo Paulus-Petrus Argapura, Kota Jayapura, Papua.
Di sini ia membuat banyak laporan menyangkut pastoral, termasuk mencatat gejolak politik di sini.
Buku “Icktisar Kronologis Sedjarah Geredja Katolik Irian Barat Jilid I Dan II” ini merupakan karyanya yang paling banyak dikutip banyak orang.
Ketika seorang berhubungan dengan sejarah perkembangan misi Katolik di Tanah Papua, tentu saja akan berhubungan dengan tulisannya. Karena tulisannya menyajikan informasi kronik historis yang cukup penting.
Ihwal menyangkut pos pertama misi Katolik di Tanah Papua dijelaskan pada halam ini.
Pertama, menjelaskan tentang Pater Le Cocq d’Armandville yang mendapat tenaga tambahan, yakni Bruder Zinken SJ dan te Broekhorst SJ yang membantunya untuk membangun pertama pada 1 Mei 1895.
“…Pater C. Le Cocq d’Armandville mendapat bantuan tenaga, ialah Br. Zinken S.J dan Br. te Broekhorst S.J. Bruder ini mendirikan rumah pastoran di Ajer Besar, beberapa kilometer sebelah timur Fakfak (hal.3).”
Kedua, Haripranata berbicara soal Sekolah Le Cocq. Setelah membuka pastoran, pada November 1895, pastor Le Cocq membuka pendaftaran dan menerima siswa perdana.
Sebanyak 10 anak daftar di sekolah perdana. Kemudian Pater Le Cocq, memberikan kepercayaan penuh kepada guru katekis Protestan asal Ambon, Christianus Pelletimu untuk mengajar anak-anak di sekolah tersebut.
“…Pater Le Cocq membuka sekolah dengan murid 10 anak, jang menerima peladjaran dari seorang guru Protestan dari Ambon, bernama Christianus Pelletimu.”
Ketiga, Haripranata menjelaskan tentang penutupan “Satasi Kapaur” yang ditutup pasca kepergian Pater Le Cocq di Kipia dan Mappa, Mimika pada 27 Mei 1896. Ia menjelaskan bahwa stasi [pertama] ini ditutup pada Juli 1896.
“…Stasi Kapaur dekat Fak-fak ditutup. Disana ditinggalkan kira-kira 100 orang Katolik. Pater van der Heyden mengambil Bruder-bruder dan guru Pelletimu, dibawah ke Langgur. Di situ guru Pelletimu mengadjar beberapa anak-anak Kei.”
Seputar Pulau Misi
Pada 12 Mei 2024 saya pergi ke Fakfak. Tujuan utamanya adalah merayakan 129 tahun misi Katolik di Tanah Papua, yang dipusatkan di Pulau Bonyom, Fakfak.
Namun, saya pergi lebih dulu karena hendak mempersiapkan seminar sehari dan mengumpulkan informasi menyangkut kehadiran Pater Le Cocq di wilayah ini.
Sesampai di Kota Pala ini, saya mulai tanyakan kepada penduduk lokal terkait letak kampung Air Besar, dan pastoran serta stasi pertama yang dibangun oleh pastor Le Cocq, namun ditutup kembali.
Baru orang-orang tua, seperti bapak Didimus Temongmere, Yoseph Wagab, Komber dari Pasir Putih dan lainnya memberitahu saya soal lokasi Air Besar dan pastoranya. Bahkan saya ke sana hanya untuk memastikannya.
Apa yang kami lakukan ini tidak jauh dari dari tempat dimana Pater Le Cocq bangun pastoran, sekolah, dan atasi pertama itu.
Nama, pulau itu, yang pertama kali saya dengar dari mulut masyarakat adalah Pulau Bone.
Bone adalah istilah Latin yang mengartikan kebaikan, keindahan, dan kedamaian. Sekarang lebih banyak menyebut Bonyom—sesuai dialek lokal.
Sedangkan penduduk lokal punya pandangan hidup terhadap pulau ini.
Sebenarnya, ada banyak sebutan untuk menyebut lokasi, baik arah timur barat, utara, selatan dan lainnya.
Namun, menurut bapak Hendrikus Temongmere, seorang penjaga sumur Le Cocq di pulau misi ini terdapat nama besar, yakni “Warhiranggah.” Tentu ada arti dan filosofi bagi penduduk lokal.
“..Oh, nama tempat itu ada berapa nama tapi…nama besarnya Warhranggah,” tulisnya melalui pesan di WhatsApp pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 07:44 WIT. Itu beliau menjawab pertanyaan saya: “…nama pulau Bonyom dalam bahasa setempat apa?”
Akses masuk
Dari kampung Brongkendik ke pulau ini kurang lebih 2–3 kilometer. Sedangkan dari kota, sekitar taman Tiga Tungku Satu Batu dan Pelabuhan Fakfak kurang lebih 5–10 kilometer. Dekat, hanya tikungan terlalu banyak.
Juga jalan yang sempit dengan kepadatan penduduk yang lumayan besar, dapat memakan waktu 15 menit.
Mau masuk di pulau ini harus mengikuti jalan darat atau perahu. Jalan darat berarti, dari depan Gereja Stasi Santo Yoseph Brongkendik turun ke pantai. Lalu mengikuti jembatan gantung, yang dibuat dari kayu.
Sekarang tidak layak lagi, karena hujan membuatnya rusak parah. Sedangkan orang yang menggunakan perahu, bisa masuk dari Bronk, Raduria, Sakartemen, Pasir Putih, Wayati dan lainnya.

Keadaan umum
Pulau ini dikelilingi oleh lautan. Namun, hutan bakau atau mangrove yang tumbuh di sepanjang Air Besar, Sakartemen dan Hambriankendik, membuatnya terkesan menyatu dengan daratan. Bebatuan, rerumputan, pepohonan, lumpur dan pasir membuat pulau ini semakin indah, seturut namanya yang identik dengan bahasa Latin (Bone—Bonyum).
Selain itu, terdapat pohon sagu, kelapa, cokelat, papaya dan sibu (ubi). Bila musim hujan tiba atau air pasang, muncul telaga kecil yang ditutupi pepohonan.
Terdengar juga kicauan burung-burung dari hutan sepangkal. Batu-batu kerikil dan besar yang keras yang ada di sini juga memberi warna, sekaligus perlindungan bagi pulau misi ini.
Tempatnya rata. Indah sekali. Bagus pula. Karena bagian yang berhadapan dengan kampung Pasir Putih dan pulau panjang, terdapat pasir panjang yang bersih.
Anak-anak muda sering mandi di sini. Namun, sangat hati-hati, karena apabila datang air pasang, dapat membahayakan nyawa orang. Konon banyak perahu terbalik di sini.
Kuburan moyang
Bagian tengah sangatlah rata. Menurut bapak Didimus Temongmere, dan Benyamin Taswa—seorang Protestan yang tinggal di Kampung Mendopma, beberapa klan marga pernah tinggal di sini.
Sebagian pernah dikuburkan di pulau ini. Hingga saat ini, bekas kuburan dan tulang-tulangnya masih ada.
Waktu saya ke pulau misi, saya berkunjung ke lokasi yang diduga menguburkan orang. Saya didampingi oleh bapak Temongmere, Taswa, dan sejumlah tokoh gereja lainnya. Mereka cerita sambil menunjukkan tempat keluarga mereka pernah dikuburkannya.
Lokasi pos misi pertama
Dalam pulau terdapat dua bukit besar. Di bawah bukit, tanahnya agak subur. Karena itu, penduduk lokal bercocok tanam di sini. Sebagian tanah di bawah kaki bukit cukup basah. Barangkali ada mata air tawar yang keluar dari dalam tanah.
Wajar juga bila ada pohon sagu yang tumbuh di situ. Di situ terdapat sebuah sumur tua.
Sumur ini disebut sebagai sumur Le Cocq. Menurut bapak Didimus, dibangun oleh pastor Le Cocq pada Mei 1895. Usianya kini telah mencapai 130 tahun.
Beberapa orang percaya, bahwa air sumur ini dapat menyembuhkan orang sakit. Karena itu, sejumlah orang datang menimba air di sini agar gunakan sesuai keperluannya.
Kaka Fransiska Gondro Mahuze pernah membawa air dari sumur ini ke Merauke. Begitupun Kaka Jhon Gobai dan umat Muslim yang menimba airnya di sana.
Sumur Le Cocq dibangun bersamaan dengan gereja, pastoran dan sekolah darurat di Pulau Bonyom.
Lokasinya tidak terlalu jauh. Bahkan tidak seperti yang diceritakan Haripranata dalam bukunya. Kampung Air Besar terlalu jauh. Jaraknya dari Air Besar ke sini sekitar 3-4 kilometer. Lokasi pastoran, sekolah dan stasi pertama ada di pulau ini, Bonyom.
Upaya baru
Di atas puncak bukit yang berhadapan dengan jalan masuk itu, pada 22 Mei 2010/11, Duta Besar Vatikan, Mgr. Antonio Guido Filipazzi pernah meletakkan batu pertama untuk pembangunan patung Kristus Raja.
Namun, hingga saat ini program ini belum terwujud, karena terkendala dengan biaya pembangunan patung raksasa tersebut.
Sejak 2024 lalu, tim Le Cocq Foundation mendorong wacana pendirian Gua Maria di pulau Bonyom. Gua ini rencananya dibangun di dekat sumur Le Cocq.
Sumur Le Cocq akan berada di dalam gua Maria. Patung Bunda Maria versi perempuan Mbaham Matta sudah dirakit oleh seorang umat di Surabaya, Jawa Timur, dari batu asli. Saat ini berada di kota Fakfak.
Saat ini orang sedang mengumpulkan bahan bangunan. Batu-batu diangkat pakai speedboat dari Air Besar ke Pulau Bonyom.
Sebagian material telah dikumpulkan. Tinggal mendatangkan bahan dan alat serta tukang bangunan guna memulai pekerjaanya.
Pastor TPW, Alex Fabianus Pr dan Pastor Jhon Bunay Pr memainkan peran penting dalam membangun gua ini.
Pergumulan besar adalah pembangunan jalan, parkiran, jembatan, kapel, rumah singgah, homestay, aula, dan lain sebagainnya.
Namun, semua rencana ini terstagnan dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki tim. Sejauh ini tim berusaha membuat master plan dan mendorong agar ke depan pulau misi ini menjadi situs wisata religi Katolik di Tanah Papua.
Para pendahulu pernah bernubuat di pulau ini. Nubuat itu berhubungan dengan terang yang akan datang dan terbit dari pulau ini.
Katanya: “pada suatu hari terang akan nampak dari pulau ini dan akan menyinari di seluruh bumi (tanah Papua).” (*)
*Penulis adalah pemerhati sejarah perkembangan misi Katolik di Tanah Papua







