Oleh: Beni Degei, mahasiswa STK-Touye Paapaa Deiyai, Papua Tengah
Paskah selalu datang membawa kabar sukacita: kemenangan kehidupan atas kematian, terang atas kegelapan, dan harapan atas keputusasaan.
Namun, Paskah tahun 2026 mengajak kita untuk tidak sekadar merayakan kebangkitan Kristus, melainkan juga merenung lebih dalam, terutama ketika kita melihat realitas yang sedang terjadi di tanah Papua.
Di balik keindahan alamnya, Papua masih menyimpan banyak luka. Konflik yang berkepanjangan, ketidakadilan sosial, keterbatasan akses pendidikan, hingga rasa aman yang belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat, menjadi kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Banyak anak kehilangan kesempatan belajar dengan layak, banyak keluarga hidup dalam ketakutan, dan masa depan terasa samar bagi sebagian generasi muda.
Dalam situasi seperti ini, Paskah bukan hanya perayaan iman, tetapi panggilan moral.
Kebangkitan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Ada harapan yang terus hidup, bahkan di tengah situasi yang paling gelap sekalipun.
Namun, harapan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan keberanian, kepedulian, dan tindakan nyata dari kita semua—terutama generasi muda. Kita tidak bisa menutup mata atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Justru di tengah kenyataan yang sulit ini, kita dipanggil untuk hadir dan ambil bagian.
Generasi muda Papua dan Indonesia memiliki peran penting dalam menyalakan harapan tersebut. Melalui pendidikan, kita membangun masa depan.
Melalui solidaritas, kita menguatkan sesama. Melalui suara dan tindakan, kita memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
Paskah mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil: kepedulian terhadap sesama, keberanian untuk berkata benar, dan kesediaan untuk berdiri bersama mereka yang lemah.
Dalam konteks Papua, ini berarti berani menyuarakan menyuarakan perdamaian, memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat, dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Kita percaya bahwa Papua tidak diciptakan untuk terus berada dalam penderitaan.
Tanah ini memiliki masa depan yang penuh harapan. Namun, masa depan itu hanya bisa terwujud jika ada kesadaran bersama untuk berubah dan bergerak maju.
Paskah 2026 harus menjadi momentum kebangkitan—bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial dan kemanusiaan. Kebangkitan yang nyata dalam tindakan, dalam kebijakan, dan dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.
Dari Papua, kita belajar bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati. Ia mungkin redup, tetapi tidak pernah padam. Dan selama masih ada orang-orang yang peduli, yang berani bersuara, dan yang terus berjuang, harapan itu akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit.
Selamat Paskah 2026. Mari kita menjadi bagian dari kebangkitan itu. []







