Nabire, WAGADEI – Di antara rimbun hutan Papua Tengah dan semilir angin dari bukit-bukit Deiyai yang senyap, lahirlah seorang perempuan yang kelak menjadi teladan bagi banyak orang. Namanya Yulita Mote, bukan sekadar sosok birokrat, tapi gambaran nyata dari kepemimpinan yang mengakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Ia tak datang dengan sorotan kamera, tidak pula dikelilingi pengawal berseragam. Kehadirannya di kampung-kampung sunyi Deiyai seringkali tak disadari—hingga ia duduk bersila di antara para ibu, mendengar keluh dari seorang janda tua, atau mengelus kepala anak yatim yang menggigil dalam rumah berdinding rumbia. Di situlah letak kekuatannya: kepedulian yang tak dibuat-buat.
Sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Deiyai, Yulita memilih jalan yang tak banyak diambil oleh pemangku jabatan lainnya. Ia mengambil jalan sunyi yang lebih banyak mendengar daripada memerintah.
Mote bukan perempuan yang gemar menyusun pidato panjang, tapi ia mahir berbicara dalam bahasa empati yang menyentuh langsung ke inti persoalan masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan, Yulita tidak segan turun ke lapangan. Sepatu botnya sering terbenam dalam lumpur, dan kulit wajahnya tersengat matahari pegunungan.
Ia mendatangi warga di ujung distrik, menatap mereka dalam-dalam, dan berkata, “Saya di sini untuk bantu, bukan memerintah.”
Kata-kata itu bukan slogan, tapi ikrar yang ia penuhi dengan kerja konkret—bantuan pangan untuk lansia, intervensi bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga pendampingan psikososial bagi anak-anak yang kehilangan orangtua akibat konflik atau penyakit.
Kepemimpinan Yulita Mote berpijak pada semangat Enaimo Ekowai, sebuah cita-cita yang diusung oleh Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome—visi yang berarti “Bangkit dan Mandiri” dalam bahasa Mee.
Dalam semangat itu, Yulita menjalin kerja sama lintas sektor: mengajak gereja, komunitas adat, LSM, dan pemuda untuk duduk satu meja, merancang langkah-langkah nyata untuk pelayanan sosial yang inklusif dan bermartabat.
Di ruang kantornya yang sederhana, tak banyak foto penghargaan terpajang. Tapi di dinding hatinya, tergambar jelas senyum anak-anak dari kampung Madi, tawa para mama di Waghete, dan harapan para penyandang disabilitas yang kini mulai mendapat perhatian. Semua itu menjadi energi yang terus menyala dalam dirinya.
Sebagai perempuan Papua, ia sadar bahwa kepemimpinan bukanlah soal posisi, melainkan keberanian untuk hadir dan merasakan.
Ia percaya bahwa pelayanan publik yang sejati bukan tentang seremonial, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin bersedia mengosongkan diri, menjadi wadah bagi suara mereka yang selama ini tak terdengar.
Kini, nama Yulita Mote tak hanya dikenal di kalangan birokrasi, tetapi juga di hati masyarakat. Ia adalah simbol dari harapan yang hidup di tengah kesederhanaan, dan saksi bahwa seorang perempuan Papua bisa menjadi kekuatan perubahan, bukan karena kekuasaan, tapi karena cinta. (*)
