Nabire, WAGADEI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah terus memperkuat langkah nyata dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui audiensi dan konsultasi resmi Program Pra-Pendidikan Dokter Spesialis (Pra-PPDS) bagi dokter asal Papua Tengah bersama Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) di Makassar pada hari Jumat, 23 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Dekan FK Unhas Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, http://M.Kes, http://Sp.PD-KGH., http://Sp.GK, FINASIM, bersama jajaran Wakil Dekan dan pengelola Program Pendidikan Dokter Spesialis FK Unhas.
Dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah, audiensi melibatkan Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah yang dipimpin Kristianus Tebai, S.KM, M.Kes, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, bersama tim pendamping.
Menurut Kristianus Tebai, S.KM, M.Kes, audiensi ini menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan, khususnya dokter spesialis, yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di delapan kabupaten.
Ia menegaskan, program ini dilatarbelakangi oleh masih adanya kesenjangan antara kebutuhan pelayanan dengan ketersediaan dokter spesialis. Kondisi geografis, perkembangan fasilitas pelayanan kesehatan, serta kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang semakin kompleks membutuhkan strategi pengembangan SDM kesehatan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga terencana dan berkelanjutan.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah memilih untuk tidak hanya menunggu tersedianya dokter spesialis dari luar daerah. Melalui program ini, pemerintah berupaya mempersiapkan dokter-dokter asal Papua Tengah agar memiliki kesempatan dan kesiapan yang lebih baik untuk menempuh pendidikan dokter spesialis,” kata Tebai.
Dalam audiensi tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah memaparkan kondisi kesenjangan SDM kesehatan, khususnya kebutuhan dokter untuk mendukung pelayanan kesehatan di Papua Tengah.
Pembahasan tidak berhenti pada jumlah dokter yang dibutuhkan. FK Unhas menekankan pentingnya menggunakan data jumlah pasien, pola penyakit, kebutuhan rumah sakit, serta kondisi pelayanan kesehatan sebagai dasar menentukan jenis dokter spesialis yang perlu diprioritaskan.
“Dengan demikian, dokter yang dipersiapkan nantinya tidak semata-mata berdasarkan keinginan memilih bidang spesialisasi, tetapi diarahkan untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang nyata di Papua Tengah,” ucapnya.
Pra-PPDS Bukan Jalan Pintas, tetapi Program Persiapan Kompetensi
Program Pra-PPDS dirancang sebagai tahap persiapan bagi dokter-dokter potensial sebelum mengikuti proses pendidikan dokter spesialis.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah tes baseline untuk mengetahui kemampuan awal calon peserta. Tim dari Universitas Hasanuddin direncanakan datang langsung ke Papua Tengah untuk melaksanakan proses tersebut.
Hasil tes baseline selanjutnya akan menjadi dasar dalam menyusun pola pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta.
Selain itu, dalam audiensi juga dibahas beberapa bentuk penguatan calon peserta, antara lain melalui pembimbingan, pemagangan, pemetaan bidang spesialisasi serta persiapan akademik. Program direncanakan dapat dilaksanakan secara bertahap, dengan pembinaan peserta dalam satu kelompok atau batch.
Dengan pendekatan tersebut, Pra-PPDS bukan merupakan bentuk pengurangan standar pendidikan dokter spesialis. Sebaliknya, program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan dan daya saing dokter Papua Tengah melalui proses pembinaan yang sistematis.
FK Unhas Nyatakan Kesiapan Mendukung
Audiensi memperoleh respons positif dari jajaran Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. FK Unhas menyampaikan kesiapan untuk memberikan dukungan dalam pengembangan SDM dokter Papua Tengah.
Audiensi menghasilkan sejumlah langkah tindak lanjut yang konkret. Universitas Hasanuddin akan menyiapkan proposal kegiatan untuk pelaksanaan tes baseline secara langsung di Papua Tengah.
Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Papua Tengah akan melakukan pemetaan kebutuhan utama dokter spesialis berdasarkan kebutuhan pelayanan kesehatan daerah. Identifikasi juga akan dilakukan terhadap dokter asal Papua Tengah yang sedang menjalani pendidikan PPDS, termasuk status kepegawaian serta asal fasilitas pelayanannya.
Pengembangan dokter spesialis pada hakikatnya bukan hanya persoalan pendidikan. Ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem pelayanan kesehatan Papua Tengah untuk jangka panjang.
Rumah sakit yang memiliki fasilitas baik tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten. Karena itu, program penyiapan dokter menuju pendidikan spesialis merupakan investasi penting agar peningkatan fasilitas kesehatan nantinya diikuti dengan tersedianya tenaga medis yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Keberhasilan program ini diharapkan secara bertahap memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan di Papua Tengah serta membuka peluang semakin banyak masyarakat memperoleh pelayanan spesialistik yang dibutuhkan.
Lebih jauh, program ini membawa semangat bahwa putra-putri dan dokter yang berasal dari Papua Tengah perlu diberikan ruang, pembinaan, dan kesempatan untuk menjadi bagian utama dalam pembangunan kesehatan daerahnya sendiri. (*)






















