Deiyai, WAGADEI — Di halaman Kantor Bupati Deiyai, Provinsi Papua Tengah, pagi ini, Kamis, (15/10/2026) dihiasi seragam dinas yang tertata rapi, suasana tiba-tiba berubah. Bukan terdengar pidato panjang akan diselenggarakannya pelatihan oleh Bupati Deiyai Melkianus Mote, ST, melainkan sorak-sorai yang meledak hangat. Ratusan peserta Pelatihan Dasar (LATSAR) yang baru saja diutus untuk masa pembelajarannya, bergerak serentak.
Diiringi lambaian topi dan senyum yang tak bisa disembunyikan, mereka berjalan mendekat, lalu bersama-sama mengangkat dan menggendong Bupati Melkianus Mote, ST, Kepala BKPSDM, Yusak Adii, S.STP serta ketua panitia Latsar Petrus Tekege, S.STP di atas bahu mereka.
Bagi siapa pun yang melihatnya, pemandangan ini sungguh langka. Namun bagi masyarakat Deiyai, di negeri para intelektual Meepago yang dingin dan bersahabat ini, aksi itu bukan sekadar kegembiraan sesaat. Aksi itu merupakan bahasa tertua yang dimiliki “aniki Mee”, bahasa yang diucapkan bukan lewat lisan, melainkan lewat hati yang dipikulkan pada kekuatan bahu bersama.
Menggendong pemimpin di atas bahu adalah tradisi yang lahir dari kearifan lokal masyarakat adat pegunungan Papua. Di masa lalu, orang-orang akan mengangkat pemimpin mereka saat beliau telah memampukan rakyat hidup lebih baik, saat beliau menjaga damai di lembah-lembah dan saat beliau membuka jalan agar anak cucu bisa melangkah lebih jauh.
“Aksi dukung pemimpin daerah ini bukan sekadar tawa atau sorak. Ini adalah ungkapan paling tulus, bahwa Bapak Bupati dan jajarannya telah memimpin kami dengan hati. Kini, izinkanlah kami menggendong Bapak di bahu kami, sebagai tanda bahwa kami siap berjalan bersama membangun tanah kelahiran ini,” ujar Kristianus Tekege, salah satu perwakilan peserta dengan mata yang berbinar.
Para peserta Latsar yang terdiri dari Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), Tenaga Honorer Kategori II dan PPPK “Yuu Waitaa” itu merasa bahwa mereka akan menyelesaikan Latsar dengan baik tak terlepas dari perhatian, dukungan, dan pengawalan yang diberikan pimpinan daerah. Kepemimpinan Bupati Melkianus yang mendengar, hadir dan mendampingi, menjadikan proses pelatihan bukan sekadar kewajiban, melainkan perjalanan menumbuhkan harapan baru.
Kebersamaan yang Melampaui Batas Jabatan
Saat Bupati Mote dan para pejabat digendong berkeliling halaman kantor, garis antara pimpinan dan pegawai baru seolah luruh. Yang terlihat bukan sekadar atasan dan bawahan, melainkan satu keluarga besar yang lahir dari tanah yang sama. Sorak-sorai mereka bergema, terdengar hingga ke jalanan sekitar itu bukan sebagai keributan, melainkan nyanyian sukacita yang menceritakan, bahwa di kabupaten Deiyai, kepemimpinan adalah tentang kebersamaan, bukan jarak.
Bupati Melkianus Mote yang terlihat terharu terus tersenyum sambil melambaikan tangan. Beliau tahu, momen ini jauh lebih berharga daripada sekadar seremonial pelepasan pelatihan. Di atas bahu anak-anak muda Deiyai, Mote merasakan kepercayaan yang luar biasa bahwa amanah besar yang diemban bersama-sama.
“Inilah kekuatan kita. Bukan di gedung yang tinggi atau jalan yang lebar, melainkan di hati rakyat yang saling mengangkat satu sama lain. Jika kita saling memikul beban, membangun Deiyai tidak akan terasa berat,” ujar Bupati Mote di sela-sela kehangatan suasana.
Langkah Awal Pengabdian yang Bernilai Budaya
Pelatihan Dasar akan segera selesai dimulai di Nabire pada pekan depan. Buku-buku pelatihan akan dibuka. Namun pelajaran terpenting justru baru saja dimulai adalah pelajaran tentang bagaimana menjadi abdi negara yang tidak melupakan akar budaya.
Para peserta yang akan siap melangkah ke tempat tugas masing-masing membawa bekal yang lebih dari sekadar pengetahuan teknis di ruang Latsar. Mereka membawa kesadaran, bahwa menjadi pelayan masyarakat berarti melayani dengan hati yang sama hangatnya seperti hati orang-orang yang mengangkat pemimpin mereka di atas bahu hari ini. Bahwa integritas dan dedikasi sejati lahir dari rasa memiliki, bahwa Deiyai adalah rumah kita bersama dan membangunnya adalah kehormatan kita bersama.
Momen sederhana namun agung ini menjadi pijakan awal yang kuat. Di tanah Deiyai, pengabdian dimulai bukan dengan janji manis, melainkan dengan hati yang saling mengangkat persis seperti nilai budaya yang hidup di sini sejak dahulu, bahwa kita berjalan bersama, kita kuat bersama dan kita bangkit bersama menuju moto kabupaten Deiyai “Dou, Gai, Ekowai” yang artinya Melihat, Berpikir dan Melakukan.
Semoga semangat ini terus hidup di negeri Wagadei, menaungi setiap langkah pengabdian anak-anak Deiyai di masa depan yang lebih baik. (*)






















