Nabire, WAGADEI — Pagi yang bersinar di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah membawa pemandangan yang tak biasa namun begitu memukau. Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di bumi Papua Tengah tahun 2026 ini bukan hanya dipenuhi kibaran Merah Putih dan khidmat nasional, tetapi juga dihiasi keindahan, kebanggaan dan keagungan busana adat Papua khususnya suku Mee dan Dani yang dikenakan para pemimpin daerahnya.
Di tengah lapangan upacara, di bawah langit biru Nabire, budaya dan kemerdekaan berpadu dalam satu harmoni yang memikat mata.
Gubernur Meki Nawipa: Megah dalam Busana Adat Suku Mee
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH melangkah menuju podium dengan penuh wibawa dalam balutan busana adat khas suku Mee, adalah suku asli yang menjadi akar identitasnya. Pakaian berbahan kulit kayu yang lembut namun tegar itu dihiasi, yakni:
– Noken Anggrek atau dikenal dengan sebutan Bitu Agiya yang menjuntai anggun itu dipadukan dengan Dageebai atau Migaabai sebagai penutup di kepala simbol kehormatan dan keterikatan dengan alam;
– Mege atau kulit bia termasuk Dedega dari manik-manik yang berkilau di bawah sinar matahari, menandakan keindahan seni tangan nenek moyang;
– Noken kecil yang tersemat di dada disebut Amaapa atau Kagaamapa, merupakan lambang tanggung jawab yang selalu dibawa dekat hati;
– Gelang tangan yang berada di lengan disebut Kagane dipakai guna menyempurnakan penampilan sebagai pemimpin (Tonawi) sekaligus putra daerah.
Di sampingnya, Ibu Gubernur Nurhaida Meki Nawipa tampil anggun dalam busana bermotif khas pesisir Papua, lengkap dengan ornamen dan aksesori tradisional yang memancarkan kelembutan sekaligus keteguhan perempuan Papua.
Wagub Deinas Geley: Berani dan Bangga dalam Busana Adat Suku Dani
Tak kalah memukau, Wakil Gubernur Deinas Geley, S.Sos, M.Si hadir bersama istri dalam balutan busana adat Suku Dani. Wajahnya dihiasi coretan warna hitam merupakan khas adatnya sebagai tanda keberanian dan kesiapan menjaga tanah dan bangsa sambil membawa anak panah sebagai simbol keteguhan hati. Noken bermotif suku Dani tersampir di bahu, disempurnakan oleh aksesori taring babi yang melingkar lambang kekuatan dan kehormatan tinggi sekaligus membawa anak panah dan busur sebagai tongkat komando yang berasal dari adat.
Istri Wagub Deinas Geley tampil mempesona dalam busana adat perempuan Dani, lengkap dengan sali, noken dan perhiasan tradisional yang menyempurnakan keanggunan budaya leluhur.
Formalitas dan Identitas Berjalan Beriringan
Berbeda dengan keduanya, Menteri Hak Asasi Manusia RI, Natalius Pigai yang turut hadir dalam upacara di halaman kantor Gubernur Papua Tengah telah tampil dalam balutan kemeja putih, celana hitam dan jas formal. Para pimpinan Forkopimda pun hadir dalam pakaian dinas dan resmi, menciptakan keseimbangan indah agar kesetiaan kepada negara dan kesetiaan kepada budaya sendiri tidak harus bertentangan, namun keduanya bisa berdampingan dalam satu upacara yang sama.
Di barisan peserta lainnya keberagaman semakin terasa sebagian mengenakan busana adat dari berbagai wilayah Nusantara, sementara yang lain mengenakan batik Papua —kain bermotif kaya makna yang kini menjadi kebanggaan bersama.
Pemandangan pagi ini di halaman kantor Gubernur Papua Tengah menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar estetika.
Kemerdekaan yang sejati adalah ketika kita bisa merayakan kebebasan bangsa ini tanpa kehilangan jati diri budaya sendiri.
Di tanah Papua Tengah, di usia ke-81 Republik Indonesia, para pemimpinnya memilih untuk berdiri di hadapan bendera Merah Putih dengan mengenakan busana nenek moyang mereka. Ini bukan sekadar pertunjukan budaya. Ini adalah pernyataan bahwa menjadi bagian dari Indonesia berarti turut merawat dan memuliakan kekayaan budaya masing-masing daerah sebagai bagian dari mozaik besar bangsa.
Noken, kulit kayu, manik-manik, taring babi, coretan wajah adat semuanya bersinar seiring berkibarnya bendera nasional. Semuanya menyatu dalam satu suara: merdeka, bersatu dan tetap menjadi diri sendiri. (*)
