Kecewa, Pelatih Tidak Masukkan Boaz, Ian Kabes dan Feri Pahabol di Laga Penting

Nabire, WAGADEI – Euforia dan harapan besar masyarakat tanah Papua terutama Provinsi Papua Tengah yang berkumpul di tiga lokasi penayangan bersama (Nobar) untuk mendukung Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC, berubah menjadi kekecewaan mendalam. Pasalnya, pelatih kepala Rahmad Darmawan tidak memasukkan tiga ikon dan kebanggaan masyarakat tanah Papua, Boaz Solossa, Ian Louis Kabes dan Feri Pahabol, baik sebagai pemain inti maupun cadangan dalam laga penentuan babak play-off promosi Liga 2, Jumat, (8/5/2026).

 

Bacaan Lainnya

Keputusan teknis ini langsung memicu reaksi keras dari ribuan suporter, tokoh masyarakat, hingga warga biasa yang menyaksikan pertandingan. Bagi masyarakat Papua Tengah, kehadiran ketiga nama besar itu bukan sekadar soal kekuatan permainan, melainkan simbol identitas, semangat dan harapan yang melekat kuat pada Persipura, sang Mutiara Hitam.

 

Sejak daftar susunan pemain dibacakan dan dipajang di layar besar di Halaman Kantor Gubernur, area pelabuhan Samabusa, Pantai Maf Nabire dan Jalan Merdeka, suara kecewa langsung terdengar bergema. Warga terlihat menggelengkan kepala, berbisik-bisik, hingga ada yang terlihat marah dan meninggalkan lokasi sebelum pertandingan usai.

 

“Kenapa Bapak Pelatih tidak pakai Boaz, Kabes dan Feri? Mereka ini darah daging kami, legenda yang sudah berjuang bertahun-tahun membanggakan nama daerah. Di laga penentuan seperti ini, justru mereka yang kami harapkan bisa memberi solusi dan semangat,” ujar Melkias, salah satu suporter yang hadir di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah dengan nada kecewa.

Menurutnya, meski ada pemain muda berbakat, kehadiran Boaz Solossa—pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Persipura—dan Feri Pahabol yang dikenal lincah dan berdedikasi tinggi, memiliki nilai lebih dari sekadar kemampuan teknis. Kehadiran mereka adalah penyemangat bagi seluruh suporter di lapangan maupun di luar lapangan.

“Bagi kami, Persipura bukan hanya sekumpulan pemain. Persipura adalah identitas kami. Saat nama mereka tidak ada, rasanya ada yang hilang. Harapan kami sedikit runtuh,” katanya.

Tokoh pemuda Papua Tengah, Vicky Tebai juga mengungkapkan hal senada. Ia menilai keputusan pelatih itu sangat mengecewakan karena mengabaikan aspirasi dan perasaan mayoritas pendukung.

“Di saat tim butuh gol dan butuh inspirasi, justru pemain senior disisihkan. Kami tidak mengerti dasar pertimbangannya, tapi kami sangat kecewa,” kata Vicky Tebai.

Alasan Pelatih Belum Memuaskan

Dalam konferensi pers sebelum laga, Rahmad Darmawan sempat menyebut alasan pemilihan pemain didasarkan pada kondisi fisik, taktik, dan persiapan tim. Namun penjelasan itu dianggap belum cukup memuaskan masyarakat.

“Keputusan ini murni pertimbangan teknis. Kami melihat kondisi, kesiapan, dan rencana permainan. Pemain yang diturunkan adalah yang kami anggap paling pas untuk menjalankan strategi hari ini,” ujar Rahmad sebelumnya.

Namun alasan itu tidak diterima baik oleh masyarakat. Mereka berargumen: kondisi fisik Boaz dan Feri masih sangat layak, keduanya sudah berlatih rutin dan terlihat bugar. Lebih dari itu, masyarakat menilai faktor psikologis dan semangat juang kedua pemain ini jauh lebih berharga di laga krusial ini.

“Boaz sudah puluhan tahun buktikan kualitasnya, dia tidak pernah mengecewakan kami. Feri juga selalu berjuang habis-habisan. Mengapa di saat seperti ini tidak diberi kesempatan? Apakah prestasi dan pengabdian mereka selama ini dilupakan begitu saja?,” katanya tanya salah satu warga di media sosial, komentarnya disukai ribuan orang dalam waktu singkat.

Diketahui, legenda hidup Persipura Jayapura, Boaz Solossa, menyampaikan pesan emosional dan keputusan terakhir dalam kariernya. Ia menegaskan secara tegas, akan mengakhiri karier sepak bola profesional dan menggantung sepatu tepat setelah berhasil mengantar Mutiara Hitam kembali bersaing di kasta tertinggi Liga 1 Indonesia.

Meski kecewa, masyarakat Papua Tengah tetap mendukung penuh perjuangan tim di lapangan. Mereka berharap keputusan ini tidak berujung pada konflik internal atau perpecahan. Warga berharap pelatih dan manajemen klub mau duduk bersama, mendengarkan suara rakyat, dan menjelaskan secara terbuka alasan di balik keputusan tersebut.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH, Wakil Gubernur Deinas Geley, S.Sos, M.Si, Wakapolda Papua Tengah Kombes Pol. Dr. Gustav R. Urbinas, S.H., S.I.K., M.Pd., M.H dan seluruh Forkopimda juga turut hadir menyaksikan pertandingan melawan layar videotron.

 

Di akhir pertandingan, meski hasil belum memuaskan, ribuan suporter tetap meninggalkan lokasi dengan harapan semoga ke depan, Persipura benar-benar kembali menjadi tim yang mencerminkan jiwa rakyatnya—di mana pengabdian, kebanggaan dan ikatan emosional tidak pernah dilupakan, dan nama-nama besar yang mengukir sejarah tetap mendapat tempat terhormat.

Persipura tetap di hati, tapi kekecewaan ini menjadi catatan penting yang tak boleh dilupakan. (*)

Pos terkait