Luncurkan Program BANGKIT Papua Tengah – Berdayakan OAP, Wujudkan Kesejahteraan Berkelanjutan

Nabire, WAGADEI – Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-IV Provinsi Papua Tengah, Gubernur Provinsi Papua Tengah Meki Nawipa, SH secara resmi meluncurkan Program Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh (Bangkit) di Ballroom Kantor Gubernur, pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Mengusung tema “Bangkit Bersama Mewujudkan Papua Tengah yang Maju, Sehat, Cerdas, Mandiri dan Sejahtera”, program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan tonggak perubahan arah pembangunan yang menempatkan penguatan sumber daya manusia lebih khususnya Orang Asli Papua (OAP) sebagai inti dari kemajuan daerah.

Peluncuran Program Bangkit lahir dari kesadaran mendalam bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari panjang jalan atau banyaknya gedung, melainkan dari kualitas manusia yang mendiaminya. Data menunjukkan Provinsi Papua Tengah menghadapi tantangan berat yakni angka stunting mencapai 32,5 persen, sementara angka kemiskinan berada di kisaran 28,9 hingga 29,76 persen yang menimpa sekitar 308 ribu jiwa. Lebih dari 55 ribu balita menjadi kelompok paling rentan yang menentukan masa depan kualitas SDM daerah ini .

Gubernur Meki Nawipa, SH menegaskan, program ini adalah respons nyata terhadap kondisi tersebut, sekaligus bentuk pelaksanaan mandat Otonomi Khusus yang memprioritaskan kesejahteraan OAP.

“Pemerintah yang berhasil adalah pemerintah yang mengetahui angka stunting, kemiskinan, kematian, dan indikator pembangunan lainnya,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya data akurat sebagai dasar kebijakan. Program ini pun telah tertanam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sehingga sifatnya berkelanjutan sepanjang masa kepemimpinan.

Wujud dan Mekanisme: Terarah, Bertahap dan Tepat Sasaran

Kepala Bapperida sekaligus Ketua Sekretariat Bersama Program Bangkit, Eliezer Yogi, menjelaskan bahwa tahap awal akan dilaksanakan di empat kabupaten percontohan diantaranya Dogiyai, Paniai, Intan Jaya dan Puncak Jaya. Pola ini dipilih agar menjadi model yang teruji sebelum diperluas ke seluruh delapan kabupaten pada tahun berikutnya.

“Tiga tujuan utama peluncuran adalah mengenalkan program kepada pemangku kepentingan, menyampaikan arah kebijakan perlindungan sosial dan SDM, serta membangun komitmen bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten, mitra pembangunan dan masyarakat,” kata Yogi.

Sasaran utama program adalah balita usia nol hari hingga empat tahun, dengan bantuan tunai sebesar Rp350 ribu per bulan bagi setiap penerima yang bersumber dari Dana Otsus. Bantuan ini tidak hanya untuk pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong keluarga memanfaatkannya untuk kegiatan produktif seperti beternak atau berdagang kecil, sehingga dampaknya berganda bagi kesejahteraan rumah tangga.

Pelaksanaan didukung pembentukan Sekretariat Bersama di tingkat provinsi maupun kabupaten, disertai penyusunan rencana tindak lanjut agar berjalan terarah.

Sinergi Tata Kelola: Peran Program SKALA dan Prinsip Berbasis Data

Keberhasilan Program Bangkit tak lepas dari dukungan sistem yang lebih luas, salah satunya Program SKALA. Ottow Sinery, Senior Provincial Manager SKALA, menegaskan bahwa penguatan perlindungan sosial yang responsif terhadap kondisi lokal adalah kunci percepatan kesejahteraan . SKALA hadir membantu pemerintah membangun tata kelola yang berbasis data, kolaboratif, dan menjangkau kelompok paling membutuhkan—mengatasi kendala geografis, administrasi, dan cakupan manfaat yang selama ini belum optimal .

Prinsip berbasis data menjadi penyangga utama agar bantuan tidak meleset. Data sasaran yang disiapkan secara teliti menjadi dasar penyaluran perlindungan sosial, menjamin setiap rupiah Otsus benar-benar sampai kepada yang berhak. Hal ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan yang bersifat umum menuju intervensi yang tepat sasaran dan akuntabel.

Program Bangkit memiliki makna jauh melampaui pemberian bantuan sesaat. Ia adalah investasi jangka panjang pada masa emas pertumbuhan anak OAP—fase yang menentukan kemampuan kognitif, kesehatan fisik dan potensi produktivitas mereka di masa depan. Jika stunting berhasil ditekan dan kemiskinan berkurang, dampaknya akan terlihat pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih kokoh .

Lebih dari itu, program ini mewujudkan prinsip pembangunan yang berpihak pada OAP: bukan sekadar objek penerima manfaat, melainkan subjek utama yang akan memimpin pembangunan di tanah sendiri. Keterlibatan tokoh adat, agama, perempuan, akademisi, dan dunia usaha dalam peluncuran menegaskan bahwa ini adalah gerakan kolektif, bukan semata urusan birokrasi .

Janji “Bangkit Bersama” Tanpa Meninggalkan Siapa Pun

Masih ada tantangan besar bahwa medan yang berat, akses terbatas dan keragaman kebutuhan di setiap wilayah. Namun semangat yang ditunjukkan saat peluncuran melalui penandatanganan komitmen bersama dan kesiapan berkolaborasi, justru memberi harapan nyata. Program Bangkit membuktikan bahwa di usia ke-IV, Papua Tengah mulai menata langkah lebih matang bahwa bergerak dari pembangunan yang terburu-buru menuju pembangunan yang berakar pada manusia, berbasis data dan berpegang pada keadilan.

“Bangkit Bersama” bukan sekadar slogan, melainkan janji bahwa tidak ada satu pun anak atau keluarga OAP yang tertinggal. Melalui program ini, Papua Tengah sedang merajut fondasi generasi yang sehat, cerdas, mandiri dan bangga berdiri di atas tanah leluhurnya sendiri. (*)

Pos terkait