PAGI ini, langit di atas pegunungan Dogiyai tampak cerah bersih, seolah ikut merayakan hari suci Kenaikan Yesus Kristus. Di halaman gereja kayu sederhana yang berdiri di tengah lembah, umat berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka. Ada senyum di bibir, tapi mata mereka menyimpan duka yang dalam. Diiringi nyanyian puji-pujian yang merdu, doa-doa naik ke angkasa, namun di hati masing-masing terselip satu pertanyaan berat: Tuhan, Engkau naik ke surga dalam kemuliaan, tapi kenapa kami di sini tertinggal menanggung sakit dan penderitaan yang tak berkesudahan?.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini seharusnya penuh sukacita. Di meja depan gereja, terhampar Alkitab terbuka, dan khotbah Pastor berkumandang tentang kemenangan, tentang janji bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Namun bagi Makarius, seorang bapak berusia 45 tahun yang duduk di barisan depan, kata-kata indah itu terasa jauh dan asing. Di dalam saku bajunya, ia memegang foto usang anak pertamanya, Nopison—siswa SMA yang tewas ditembak aparat minggu lalu, hanya karena berada santai di hari Minggu, (10/5/2026) yang damai.
“Bapak Pastor bilang Yesus naik ke surga karena menang atas dosa dan kematian,” bisik Makarius pelan di antara isak tangis yang ditahannya. “Kalau begitu, Tuhan… kenapa anakku mati ditembak? Kenapa darahnya tumpah di jalan aspal itu? Di mana kemenangan-Mu buat kami?”
Penderitaan orang Papua memang sudah mengakar, menembus tulang dan darah. Sejak dulu, tanah yang subur ini, yang kaya segala-galanya, justru menjadi tempat anak-anaknya hidup dalam kekurangan dan ketakutan hingga bertaruh nyawa. Mereka melihat kekayaan alam diambil habis, dibawa pergi ke tempat lain, sementara mereka sendiri tetap tinggal di jalanan berlubang, fasilitas kesehatan yang jauh, dan sekolah yang bangunannya nyaris roboh. Lebih pahit lagi, rasa aman adalah barang paling mahal yang tak mampu mereka beli. Suara letusan senjata sudah menjadi nyanyian sedih yang akrab terdengar di telinga mereka, di pegunungan Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Pegunungan Bintang, Tolikara, Nduga, Yahukimo, Maybrat, Tambrauw, hingga ke jalanan kota.
Dan luka yang paling baru, yang masih terasa perihnya sampai hari ini, adalah kekalahan Persipura Jayapura. Tim kebanggaan orang Papua, simbol harga diri dan identitas seluruh orang Papua, dikalahkan bukan karena lawan lebih hebat, bukan karena permainan yang kalah cerdik, tapi karena didesain kalah. Semua orang sudah tahu kebenarannya—lewat pengakuan wasit dalam wawancara, lewat bukti di lapangan, lewat keputusan aneh pelatih yang sengaja membuang kekuatan utama. Boaz, Ian Kabes dan Feri Pahabol, tiga ikon yang dicintai seisi tanah ini, disuruh duduk diam di pinggir lapangan sementara tim mereka dikorbankan.
Bagi orang Papua, itu bukan sekadar kekalahan sepak bola. Itu adalah penghinaan. Itu adalah bukti nyata bahwa di mata banyak orang, keberadaan mereka dan apa yang mereka miliki tak berharga, mudah dimanipulasi, dan boleh saja diinjak-injak demi keuntungan kuasa dan uang.
Di samping Makarius, duduklah Herman, seorang pemuda mahasiswa yang baru saja pulang dari aksi damai di Nabire. Tubuhnya lelah, jiwanya lelah. Ia ikut berdoa, tapi hatinya bergumul hebat.
“Tuhan Yesus, hari ini Engkau naik ke surga,” rintih Herman dalam hatinya. “Engkau meninggalkan murid-murid-Mu dengan janji akan selalu menyertai. Tapi kami merasa sendirian. Kami berteriak minta keadilan soal tanah kami, tak didengar. Kami menangis minta keamanan, tak dikasih. Kami ingin Persipura menang demi harga diri kami, tapi diatur supaya kalah. Di mana Engkau saat kami ditindas? Di mana Engkau saat kebenaran kami dikalahkan oleh kekuatan?”
Bagi mereka, kisah Kenaikan Yesus terasa sangat kontras dengan kenyataan hidup mereka. Di Alkitab tertulis bahwa saat Yesus naik ke surga, para murid menyaksikan-Nya duduk di sebelah kanan Bapa, berkuasa atas segalanya. Tapi di tanah Papua, mereka merasa seolah keadilan dan kebenaran ikut naik ke surga bersama-Nya, lalu pintu surga ditutup rapat, dan keadilan itu tak pernah lagi turun ke bumi mereka.
Mereka melihat sendiri: yang berkuasa berbuat semau-maunya. Yang punya uang bisa mengatur segalanya. Yang lemah, yang asli tanah ini, harus menunduk, menelan pahit, dan diam saja saat hak-hak dirampas. Saat mereka bersuara, dibilang mengganggu. Saat mereka menuntut hak, dibilang melawan.
Namun di tengah ratapan dan penderitaan yang panjang itu, ada satu hal yang tak pernah hilang dari hati orang Papua: iman mereka yang sederhana namun kokoh.
Di akhir ibadah, saat umat berdoa bersama, suara Makarius terdengar lantang, memecah kesunyian, penuh emosi namun juga penuh keyakinan.
“Ya Tuhan Yesus yang naik ke surga! Kami tahu Engkau Raja atas segala raja! Kami tahu Engkau melihat semuanya! Engkau lihat tanah kami berdarah, Engkau lihat anak-anak kami tak aman, Engkau lihat Persipura kami dikhianati! Kami menderita, kami sakit hati, kami menangis! Tapi kami tidak putus asa! Karena kami tahu, meski manusia di bumi memanipulasi keadilan, Engkau Hakim yang benar! Di mata manusia kami mungkin kalah, kami mungkin kecil, kami mungkin bisa diatur! Tapi di mata-Mu, Engkau tahu kami benar! Engkau tahu kami berjuang! Engkau tahu harga diri kami yang diinjak!”
Air mata Makarius mengalir deras membasahi pipinya. Seluruh jemaat ikut menangis, bersatu dalam satu rintihan hati yang sama.
“Tuhan Yesus yang naik ke surga,” lanjutnya lagi, suaranya makin menggetarkan. “Jangan biarkan kami hancur! Jangan biarkan penderitaan ini berlarut-larut! Turunkanlah kuasa-Mu ke sini! Buktikanlah bahwa Engkau ada! Bahwa Engkau mendengar! Bahwa di surga tempat Engkau duduk, ada keadilan yang suatu saat akan kami rasakan juga di sini, di tanah Papua kami ini!”
Selesai ibadah, mereka pulang membawa hati yang masih berat, namun ada sedikit kekuatan baru yang tumbuh. Mereka sadar, penderitaan mereka belum selesai. Masih banyak tantangan, masih banyak ketidakadilan yang menanti. Persipura mungkin didesain kalah di lapangan, tapi semangat mereka belum kalah. Tanah mereka mungkin berdarah, tapi iman mereka belum mati.
Mereka menatap langit biru tempat Yesus naik dulu. Meski jauh, mereka percaya: Sang Raja yang naik ke surga itu, Dia juga Tuhan orang Papua. Dia melihat setiap tetes darah yang tumpah, Dia mendengar setiap ratapan ibu, Dia tahu setiap kepahitan hati suporter Persipura.
Dan suatu hari, mereka percaya sepenuh hati: saat keadilan itu akhirnya turun, di hari kemenangan yang sesungguhnya, penderitaan panjang ini akan berubah menjadi sukacita yang tak terhingga besarnya. Karena Tuhan Yesus yang naik ke surga, Dialah satu-satunya harapan terakhir dan terbesar bagi seluruh anak-anak Papua.
Harapan di Balik Ratapan
Ratapan orang Papua di Hari Kenaikan Yesus tahun 2026 ini bukan berarti mereka putus asa. Justru sebaliknya. Di balik air mata dan keluh kesah itu, tersimpan keyakinan kuat: Yesus yang naik ke surga itulah satu-satunya tempat kami bersandar.
Ketika negara Indonesia melalui aparat keamanan tidak melindungi, mereka bersandar pada Tuhan. Ketika hukum tidak adil, mereka memohon keadilan dari surga.
Dan ketika Persipura didesain kalah oleh manusia, mereka percaya di mata Tuhan, Persipura tetaplah pemenang, dan perjuangan mereka tidak sia-sia.
Hari ini, di tengah sukacita dunia yang merayakan kenaikan Yesus, Papua merayakannya dengan duka yang dalam. Tapi duka itu bukan akhir. Duka itu menjadi doa yang naik lebih tinggi lagi ke surga, berharap kelak, keadilan itu benar-benar turun, damai itu benar-benar terwujud, dan Persipura bangkit kembali bukan hanya sebagai tim sepak bola, tapi sebagai simbol kebenaran yang akhirnya menang.
Yesus naik ke surga membawa kemenangan. Dan kami orang asli Papua, menunggu saat di mana kemenangan itu juga kami rasakan di sini, di tanah kami sendiri. (*)
