Jayapura, WAGADEI – Nama Kampung Harapan seharusnya menjadi lambang kekuatan, tempat lahirnya mimpi dan kandang di mana Persipura Jayapura selalu tak terkalahkan. Namun pada laga krusial babak play-off Liga 2, hari Jumat, (8/5/2026), nama indah itu berubah makna sepenuhnya. Di stadion Lukas Enembe yang berada di Kampung Harapan Sentani Jayapura ini, di hadapan ribuan suporter yang berdatangan dari jauh, Persipura justru tampir tak berdaya, kalah telak 0–1 dari Adhyaksa FC Banten, dan seolah kehilangan seluruh harapan untuk melaju ke Liga 1. Malam ini, Kampung Harapan bukan lagi tempat tumbuhnya asa, melainkan saksi kejatuhan dan kepahitan terbesar sejarah Mutiara Hitam.
Gelombang kemarahan dan kecurigaan luar biasa melanda seluruh tanah Papua. Bukan sekadar kecewa karena hasil buruk, jutaan masyarakat dan suporter kini melontarkan tudingan keras: Pelatih Rahmad Darmawan (RD) dan tim wasit Asker Nadjafaliev selaku wasit FIFA asal Uzbekistan. Keduanya diduga terlibat permainan curang, sengaja mengatur jalannya laga demi menjatuhkan Persipura dan mematikan peluang tim kebanggaan Papua naik ke Liga 1.
Suara kecurigaan ini bergema dari jalanan, lokasi nobar, hingga media sosial, semakin kuat seiring bukti-bukti aneh yang terlihat jelas sepanjang 90 menit pertandingan, tambahan waktu 8 menit, ditambah keputusan wasit yang memihak kepada tim tamu, dan keputusan teknis dari pelatih RD yang dinilai sangat janggal dan merugikan tim sendiri.
Tuduhan kepada RD Sengaja Matikan Kekuatan Sendiri
Poin utama yang menjadi dasar kecurigaan terbesar adalah keputusan Rahmad Darmawan yang sama sekali tidak memasukkan Boaz Solossa, Ian Louis Kabes dan Feri Pahabol (walaupun dimasukkan di injury time), baik sebagai pemain inti maupun cadangan, padahal ketiganya sehat, bugar, dan siap 100 persen bermain.
Bagi seluruh masyarakat Papua, ini bukan lagi soal pertimbangan taktik, tapi sudah masuk kategori keanehan yang tak masuk akal. Boaz adalah legenda, pencetak gol terbanyak dan satu-satunya sosok yang berjanji akan pensiun hanya setelah mengantar Persipura ke Liga 1. Ian Louis Kabes merupakan jantung permainan, sosok panutan dan satu dari sedikit pemain yang mewakili identitas asli Persipura bersama Boaz Solossa.
Feri Pahabol adalah pekerja keras, jantung permainan, dan identitas daerah. Di laga penentuan hidup-mati, saat tim sangat butuh gol, butuh semangat, butuh pemimpin, pelatih malah menyisihkan ketiga kekuatan utama itu.
“Kalau alasan teknis, mana buktinya? Di latihan mereka tampil prima, tidak ada cedera. Kenapa tidak boleh turun? Ini jelas-jelas sengaja. Rahmad Darmawan seolah-olah menjual tim Persipura Jayapura sendiri, mematikan kekuatan Persipura dari dalam, supaya kalah mudah. Kalau dia mau menang, pasti dia pakai mereka,” kata Vicky tegas, suporter di Nabire.
Banyak yang beranggapan, pelatih sengaja menyusun skuad yang lemah, tak punya pengalaman, dan mudah dikalahkan. Strategi permainan yang diterapkan pun dinilai kacau, tak ada rencana jelas, serangan buntu terus, pertahanan berantakan—seolah pelatih memang tidak berniat menang, tapi hanya menguruskan badan sampai laga selesai.
Bahkan muncul isu keras: “Rahmad Darmawan sudah punya perjanjian diam-diam, sudah dibayar pihak lain supaya Persipura kalah, supaya Adhyaksa FC yang menang.” Tuduhan ini makin kuat karena Rahmad Darmawan adalah purnawirawan perwira menengah di TNI Angkatan Laut (AL) dengan pangkat terakhir Mayor.
Tuduhan 2: Wasit Pimpin Laga Sepihak, Semua Keputusan Rugikan Persipura
Di lapangan, tim wasit yang dipimpin wasit utama bernama Asker Nadjafaliev, menjadi sasaran kemarahan dan kecurigaan terbesar. Sepanjang pertandingan, hampir setiap keputusan, setiap tiupan peluit, setiap penilaian, semuanya berat sebelah dan merugikan Persipura, sementara Adhyaksa FC Banten dilindungi habis-habisan.
Berikut deretan kejadian yang membuat darah mendidih:
✅ Gol dari Adhyaksa dianulir atau dianggap sah padahal terlihat jelas pemainnya berada dalam posisi offside saat menerima bola, tapi wasit tetap mengesahkannya.
✅ Berkali-kali pemain Persipura dijatuhkan keras, tapi wasit menutup mata, tidak memberi hukuman penalti, malah menunjuk keluar lapangan.
✅ Pelanggaran kasar lawan dibiarkan saja, tak dikartu kuning apalagi merah. Sebaliknya, sentuhan ringan dari pemain Persipura langsung ditiup peluit, langsung dikartu, seolah kami yang nakal.
✅ Tidak ada penerapan teknologi VAR, padahal banyak momen krusial yang butuh pengecekan ulang. Wasit bertindak sewenang-wenang, seolah sudah ada keputusan mati: Persipura harus kalah.
“Wasit ini bukan memimpin pertandingan, dia bekerja sama dengan lawan. Dia seperti orang yang disewa, datang ke sini cuma untuk memastikan kami kalah. Di kandang sendiri, didukung ribuan orang, kami diperlakukan seperti tim tamu, bahkan lebih buruk lagi. Ini bukan sepak bola, ini penipuan,” kata suporter Persipuramania dengan nada gemetar menahan amarah.
Banyak video dan rekaman yang beredar, membuktikan jelas ketidakadilan itu. Warga menyebut: Wasit seolah bekerja satu tim, saling melengkapi untuk menjatuhkan Persipura. Satu mematikan dari dalam, satu merusak dari luar.
Suara Boaz: “Tuhan mau saya lanjut main musim depan”
Pernyataan Boaz Solossa pasca-laga melalui akun Instagramnya makin menguatkan. Ia bilang: “Tuhan belum ijinkan pensiun, coba lagi musim depan”.
Kalimat itu dianggap memberikan dampak positif kepada semua pihak terutama tim Mutiara Hitam bahwa mari fokus pada musim depan demi kemenangan Persipura.
Ada Permainan Gelap?
Kini, seluruh elemen masyarakat Papua, tokoh adat dan pemuda bergerak serentak.
Di media sosial, tagar #PersipuraDijatuhkan dan #WasitCurang sudah jadi tren utama, dibagikan ratusan ribu kali. Suara rakyat bersatu: Persipura tidak kalah karena lemah, tidak kalah karena lawan lebih kuat, tapi kalah karena dikhianati pelatih sendiri dan dicurangi wasit.
Di Kampung Harapan yang seharusnya jadi benteng, Persipura jatuh bukan karena tak punya harapan, tapi karena harapan itu sendiri diputus paksa oleh orang-orang yang seharusnya melindungi dan memimpinnya.
Kini, pertanyaannya besar menggantung: Apakah keadilan akan ditegakkan? Atau permainan ini akan diamkan saja, sementara Persipura harus menelan kepahitan karena ulah orang-orang yang diduga berkhianat?
Rakyat Papua tidak akan diam. Bukti dikumpulkan, laporan disiapkan, dan perjuangan baru dimulai: bukan lagi perjuangan di lapangan, tapi perjuangan menuntut kebenaran dan keadilan. (*)











