Jayapura, WAGADEI – Tanggal 22 Mei kini secara resmi ditetapkan sebagai “Hari Misi Katolik di Tanah Papua”. Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan dan penghargaan yang tinggi atas peran besar Gereja Katolik dalam pembangunan dan peradaban di wilayah Papua sejak masa lalu hingga saat ini.
Tanggal 22 Mei dipilih karena memiliki makna sejarah yang sangat penting bagi umat Katolik dan masyarakat Papua. Pada tanggal tersebut, tepatnya tahun 1894, Agama Katolik dibawa seorang misionaris bernama Pater Le Cocq d’Armandville SJ dengan menumpangi kapal milik seorang Arab. Ketika Pater Le Cocq tiba pertama kali di Kampung Sekru, ia disambut oleh warga setempat untuk memulai karya pewartaan Injil serta pelayanan sosial.
Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr menetapkan tanggal 22 Mei sebagai Hari Misi Katolik di Tanah Papua, sebagaimana tertuang dalam surat resmi Keuskupan Manokwari-Sorong tertanggal 15 April 2026.
“Keputusan ini merupakan langkah penting dalam merawat ingatan kolektif iman umat Katolik di Tanah Papua,” kata Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr.
Tim Kerja Dapur Harapan Apresiasi Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong
Ketua Tim Kerja Dapur Harapan, Yan Ukago mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr. Menurut Ukago, penetapan tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah pada 22 Mei 1894, ketika Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ pertama kali membangun kontak dengan masyarakat lokal di Kampung Sekru, Fakfak, Papua Barat.
Peristiwa ini kemudian diikuti dengan pendirian pos misi Katolik pertama pada 2 Mei 1894 di Pulau Warhiranggah (Pulau Bonyom), Kampung Brongkendik, Fakfak, Papua Barat.
“Kami Tim Kerja Dapur Harapan menyampaikan apresiasi kepada Bapa Uskup Manokwari – Sorong. Melalui kebijakan ini, setiap tanggal 22 Mei mulai tahun 2026, seluruh sekolah di bawah naungan YPPK KMS diliburkan, dan peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan diarahkan untuk mengikuti perayaan Ekaristi sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah awal Gereja Katolik di Tanah Papua,” kata Yan Ukago, Senin, (20/4/2026).
Ia mengatakan, Tim Kerja Dapur Harapan, yang selama ini berfokus pada riset dan pendokumentasian sejarah misi Katolik di Tanah Papua, menilai kebijakan ini sebagai tonggak penting dalam membangun kesadaran historis dan spiritual umat, khususnya generasi muda Papua.
“Kami juga mendorong para Uskup di keuskupan lain di Tanah Papua, khususnyaKeuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Agats, danKeuskupan Timika, untuk mengambil langkah serupa melalui penerbitan surat keputusan atau surat gembala yang menetapkan 22 Mei sebagai hari bersejarah bagi umat Katolik di Papua,” katanya.
Lebih lanjut, pihaknya mengundang seluruh umat Katolik, lembaga pendidikan, paroki, stasi, kapel dan komunitas basis gerejani di seluruh Tanah Papua untuk turut ambil bagian dalam Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang akan diselenggarakan di Fakfak pada tanggal 18–24 Mei 2026.
“Perayaan ini diharapkan menjadi momentum bersama untuk merefleksikan perjalanan iman, memperkuat persaudaraan, serta memperbarui komitmen dalam menghadirkan terang Injil di Tanah Papua,” ujarnya.
Misionaris bawa juga Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Sosial
Sejarah mencatat bahwa kedatangan para misionaris tidak hanya membawa nilai-nilai spiritual, tetapi juga membawa perubahan besar di bidang pendidikan, kesehatan dan pembangunan sosial. Banyak sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial yang didirikan oleh Gereja Katolik yang hingga kini masih berdiri kokoh dan memberikan manfaat luas bagi seluruh masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama dan suku.
Penetapan hari penting ini juga menjadi momentum untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah bekerja keras, berkorban, dan mengabdi demi kemajuan tanah Papua. Selain itu, peringatan ini juga diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan, toleransi, dan gotong royong dalam membangun daerah yang lebih maju, sejahtera, dan damai.
“Peringatan Hari Misi Katolik setiap tanggal 22 Mei nantinya akan menjadi momen refleksi bagi umat beragama untuk terus berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah, menjaga kerukunan, serta melestarikan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang telah ditanamkan sejak lama di tengah masyarakat Papua,” katanya.
Pihaknya juga mendorong agar setiap wilayah dan komunitas merayakan momentum ini sesuai dengan konteks lokal masing-masing, sehingga nilai-nilai sejarah, iman dan budaya dapat terus hidup dan berkembang secara kontekstual.
“Kami ajakan kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan merayakan sejarah iman Katolik di Tanah Papua,” katanya. (*)









