Kisah Unik Panggilan Imamat Pastor John Bunay
TANGGAL 2 Februari 2026 menjadi momen istimewa di Dosai, Jayapura. Pesta Perak Imamat dirayakan untuk Yohanes Kristoforus Wudinaabi Bunay, seorang imam yang kisah hidupnya sungguh tak biasa, penuh liku, penuh kejutan, dan sarat tanda-tanda iman.
Pastor John Bunay, Pr, bukan hanya dikenal sebagai dosen di STFT Fajar Timur Jayapura, tetapi juga sebagai pengkhotbah yang sering diundang dalam berbagai KKR, baik di Papua, luar Papua, bahkan hingga mancanegara. Pelayanannya lintas denominasi – membawa semangat ekumene yang merangkul, bukan memisahkan.
Namun yang paling menarik adalah proses panggilannya.
1. Dari Protestan aliran Gereja Kingmi menuju Katolik.
Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga Gereja Kemah Injil (KINGMI). Ayahnya, Yoseph Bunay—anggota Polri sekaligus Majelis Gereja KINGMI Mulele Wamena—dan ibunya, Martina Aso, adalah penganut KINGMI yang taat. Sejak kecil John aktif di Sekolah Minggu.
Tak ada yang menyangka, anak Kingmi tulen ini justru dipermandikan secara Katolik di Gereja Katedral Jayapura saat kelas III SMA. Setahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke IPI Waena sebagai persiapan masuk STFT Fajar Timur—melangkah mantap menuju panggilan imamat.
Benar kata motonya: “Tidak ada yang mustahil bagi Allah.”
2. Anak Laki-Laki Tunggal yang “Sudah Berdialog dengan Surga”
Sebagai satu-satunya anak laki-laki, ia seharusnya menjadi penerus marga dan garis keturunan keluarga besar. Tetapi rupanya, sejak kecil ia telah “berdialog intens dengan Bapa di Surga.”
Di bangku SD dan SMP YPPK Wamena, John kecil sering bermain peran sebagai “pastor.” Ia memimpin misa-misaan dan membagikan “komuni” kepada teman-temannya—padahal saat itu ia masih beragama Kingmi. Seolah panggilan itu sudah tumbuh sebelum ia sendiri menyadarinya.
3. Striker Mematikan yang Diburu Klub Besar
Bakatnya di lapangan hijau luar biasa. Di SMP YPPK Wamena, ia dikenal sebagai striker mematikan. Bola lengket di kakinya, gerak tipuannya memukau, dan gol-gol cantiknya selalu menjadi penentu kemenangan. Ia bahkan bergabung dengan PORPETE (Persatuan Olahraga Pegunungan Tengah).
Setibanya di Jayapura, bakatnya makin dikenal publik. Klub besar diantaranya Persipura Jayapura dan Persija Jakarta disebut membidiknya. Masa depan cerah di dunia sepak bola mulai terbuka lebar.
Namun suatu hari, P. Prof. Nico Dister, OFM—dosen di STFT—menegaskan pilihan yang tak bisa ditawar:
“John, pilih Pastor atau Bola? Tidak bisa bilang DAN, harus ATAU.”
Dan John memilih diam lalu ia bilang “Pastor”.
Ia meninggalkan gemuruh stadion demi keheningan altar. Ia menanggalkan sepatu bola demi sandal pelayanan.
4. Tanda Ajaib di Danau Paniai
Pada tahbisannya di Wamena, 2 Februari 2001, dan Misa Pertama di gereja Katolik Keniapa, distrik Yatamo, kabupaten Paniai, terjadi peristiwa yang dikenang banyak orang.
“Pulau Berjalan” (Uwinaa Titi Okogo) di Danau Paniai tiba-tiba menutup kali Yawei persis di kampung Bogaiya dan terbawa arus deras menuju sungai Uta. Beberapa hari setelah misa Perdana itu, tanpa disaksikan siapa pun, pulau tersebut kembali ke Danau Paniai—melawan arus deras.
Bagi banyak orang, itu bukan kebetulan. Itu tanda.
Striker di Lapangan Kerikil Berduri.
Hari ini, Pastor John Bunay bukan striker di lapangan rumput hijau. Ia tidak lagi mencetak gol ke gawang lawan.
Namun ia berusaha menjadi:
“Striker yang menawan di lapangan kerikil berduri, demi menggapai yang tersirat dalam kehendak Allah.”
Kisahnya adalah kisah tentang pilihan. Tentang keberanian meninggalkan mimpi besar demi panggilan yang lebih besar. Tentang iman yang melampaui logika.
Karena sungguh, bagi manusia mungkin mustahil—tetapi tidak ada yang mustahil bagi Allah. Amin. Tuhan memberkati. (*)







