Jayapura, WAGADEI – Walaupun tanggal 16 Maret 2026, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang terdiri dari Bupati, Wakil Bupati, Kapolres dan Dandim bersama pihak legislatif, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dewan Adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, organisasi kemasyarakatan, serta perwakilan masyarakat dari 79 kampung di Kabupaten Dogiyai telah mendeklarasikan Jaga Keamanan Bersama.
Namun, selang waktu hanya dua pekan, tepat 31 Maret 2026, Dogiyai kembali berdarah. Sekitar jam 10.00 pagi seorang anggota polisi bernama Juventus Edowai dibacok di bagian leher, lima jari tangan kanannya dimutilasi, dan tewas di tempat. Ia dibunuh tepatnya di sekitar pertigaan Gereja Ebenezer Moanemani, persis di tengah-tengah kota.
Barangkali kasus kriminal yang berujung pada kematian telah menjadi langganan di kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, pasalnya hal serupa terjadi berulang kali setiap saat.
Bunyi tembakan mulai bergemuruh memenuhi langit-langit Moanemani, tanpa henti tembakan dari aparat TNI-Polri membabi-buta.
Saksi mata menyebutkan, seketika itu ada sebuah mobil milik Polisi berjenis Toyota Hilux mengejar beberapa pemuda yang menggunakan motor di Mowanemani sampai di wilayah Distrik Kamuu Utara. Di sepanjang jalan polisi tanpa henti menembaki para pemuda yang menggunakan motor.
“Ada korban di kalangan masyarakat sipil yang berjatuhan sebab polisi menembak ke segala arah secara membabi-buta. Sekurang-kurangnya ada tiga warga yang terkena tembakan: (1) Siprianus Tibakoto terkena di bagian kepala belakang; (2) Ibu Ester Pigai, seorang wanita lansia (80) yang telah lumpuh sejak lama terkena di bagian badan; (3) seorang anak remaja Martinus Yobee terkena di bagian perut hingga menyebabkan ususnya keluar,” katanya melalui keterangan.
Selain korban jiwa, ada pun dua buah mobil lintas yang dibakar oleh para pemuda asal Dogiyai, para sopir lari kocar-kacir menyelamatkan ke dalam hutan.
Di sisi lain, telah beredar sebuah video berdurasi 0.37 detik nampak anggota Brimob dengan atribut lengkap berada dalam mobil Polisi memegang senjata mengarah ke arah perbukitan itu terdengar; “Lain dong (mereka) di atas”, “Jalan sampai di mobil, jalan sampai di mobil”, “Eh hancur kasihan”. Kelihatannya anggota Brimob ini menjemput para sopir truck yang tersesat di hutan.
Keadaan Dogiyai di sekitar kota masih mencekam, jalan-jalan menjadi begitu sunyi-senyap, mobilitas dan rutinitas masyarakat menjadi sepi pasca kejadian sejak siang tadi, di kampung-kampung para pemuda masih berkumpul. Bunyi tembakan masih terdengar samar-samar dari kejauhan di seputaran Kota Moanemani.
Besar kemungkinan konflik ini akan terus bergulir di malam hari, sebab salah satu oknum korban dalam operasi militer siang ini adalah seorang ibu (mama) yang tidak bersalah.
Hingga berita ini diturunkan, wagadei.id belum mendapatkan data korban hidup yang kena tembakan peluru. (*)







