Wamena, WAGADEI.ID – Perkebunan warga empat kampung di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan terendam air akibat hujan deras yang mengguyur kawasan itu beberapa hari terakhir. Empat kampung itu diantaranya Kampung Arogolik dan Kampung Alula di Distrik Witawaya, Kampung Kilubaga di Distrik Libarek, serta Kampung Wara di Distrik Pisugi.
Seorang hamba Tuhan dari Gereja GKII Solavide Kampung Arogolik, Distrik Witawaya, Jayawijaya, Pdt. Yops Oagay mengatakan, curah hujan tinggi membuat warga gagal panen.
“Warga sebagian besar mengalami kerugian karena kebun yang siap panen terendam banjir,” katanya kepada media di Wamena, Jayawijaya, Sabtu (21/3/2026).
Dia mengatakan, curah hujan tinggi sejak Rabu (18/3/2026). Sejak Kamis (19/3/2026) warga bahkan tidak bisa lagi menggali hasil kebun tersebut.
Menurut dia, ketika air sudah naik, masyarakat setempat biasanya tidak menggali ubi. Daun ubi menjadi busuk dan kering. Warga harus menunggu air surut untuk kembali membuka kebun baru.
“Di kebun-kebun air sudah naik maka warga tidak bisa lagi mendapatkan makanan dari kebun, karena kebun tersebut sudah rusak, dan baru bisa bekerja kembali setelah air surut,” ujarnya.
Pendeta Yops mengatakan, warga sangat membutuhkan bantuan pemerintah, terutama bahan makanan, agar mereka bisa bertahan hidup sambil menunggu air surut.
“Sekaligus bekal untuk mereka bekerja seperti biasa,” katanya.
Dia menyebutkan, sebagian besar masyarakat di kampung-kampung ini memang menggantungkan hidup dari perkebunan. Karena itu, mereka meminta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera turun tangan, untuk membantu masyarakat.
Warga Kampung Arogolik, Distrik Witawaya, Mama Leni mengatakan, ubi yang ada hanya dimakan untuk tiga sampai empat hari. Selanjutnya mereka tidak bisa kembali ke kebun, karena masyarakat panen satu kali.
“Jadi, bapa-bapa, ibu-ibu (pemerintah) bisa tolong kita,” kata Mama Leni. []







