Nabire, WAGADEI – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia Timur (AMPTPI), Hengki Mote mengecam keras pernyataan Wali Kota Jayapura Abisai Rollo yang viral beberapa waktu lalu.
AMPTPI menilai pernyataan Abisai Rollo terlalu rasis, sehingga harus diklarifikasi dan harus meminta maaf. Terutama kepada masyarakat adat Lapago dan Meepago.
“Asosiasi (AMPTPI) mengikuti pernyataan bapak wali kota Jayapura itu (sepertinya) strategi Jakarta untuk memecah-belah orang Papua, sehingga rakyat Papua dimanapun berada mari kita lawan ucapan rasial oleh seorang kepala daerah wali kota Jayapura Bapak Abisai Rollo,” kata Mote.
Meski sudah diklarifikasi, Mote menilai pernyataan rasial itu sebagai ucapan tidak manusiawi dan melanggar pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Tanah Papua.
Menurut Mote, Abisai Rollo seharusnya bertindak sebagai anak adat. Sebagai anak adat dan ondoafi, seharusnya Abisai Rollo, katanya, menjadi wali kota Jayapura yang berani mengangkat hak anak-anak adat di DPRD, mengingat jumlah anak asli Port Numbay di DPRD minoritas.
“Bukan (malah) rasis kepada orang Papua dan orang gunung,” katanya.
“Kami Asosiasi meminta kepada pemerintah Papua mulai dari Sorong sampai Samarai stop pilah-pilahkan. Kami adalah satu orang Papua tetapi negara kolonial Indonesia yang membagi-bagikan wilayah maka kami tetap satu bangsa Papua,” katanya.
Menurut Mote, Wali Kota Jayapura Abisai Rollo seharusnya melarang masyarakat Port Numbay menjual tanah kepada kapitalis dan pengusaha, daripada sibuk mengucapkan kata rasis.
“Orang Papua (di)pecah-belah dengan enam provinsi di tanah Papua, tetapi orang Papua tetap satu untuk melawan kolonialisme imperialisme, militerisme; kapitalisme dan rasisme dari Tanah Papua,” katanya. (*)







