Gubernur Meki Nawipa sebut Musik Reggae adalah Pemersatu Orang Asli Papua

Nabire, WAGADEI — Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI resmi dibuka oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH di lapangan eks bandara lama Nabire, pada Jumat, (16/10/2026). Festival bertema “Culture & Art” ini diikuti oleh 36 grup musik reggae dari berbagai wilayah di Tanah Papua yang akan tampil selama dua hari, 16–17 Oktober 2026.

Pembukaan diawali dengan tarian dan nyanyian tradisional, kolaborasi budaya masyarakat pegunungan dan pesisir Papua Tengah yang kemudian ditandai dengan pelepasan balon udara oleh Gubernur Nawipa bersama jajaran Forkopimda, Bupati Dogiyai Yudas Tebai, Bupati Deiyai Melkianus Mote, Bupati Paniai Yampit Nawipa di Papua Tengah.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Gubernur Meki Nawipa menegaskan, musik reggae bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pemersatu bangsa.

“Reggae bukan sekadar musik, melainkan wadah untuk mempererat tali persaudaraan. Hanya musik yang bisa mempersatukan orang di Papua. Musik dan sepak bola tidak akan pernah terlepas dari kehidupan orang asli Papua,” ujarnya.

Hadiah Pribadi Rp100 Juta untuk Tiga Juara

Sebagai dukungan nyata terhadap kreativitas musisi Papua, Gubernur Nawipa juga secara pribadi menyiapkan total hadiah sebesar Rp100 juta untuk tiga juara kompetisi musik yakni Juara I mendapat Rp50 juta, Juara II Rp30 juta dan Juara III Rp20 juta .

“Ini bukan persoalan siapa yang paling hebat atau siapa yang terbaik, melainkan bagaimana kita mengekspresikan dan menyampaikan pesan tentang perdamaian serta kehidupan orang-orang hitam di tanah ini,” kata Gubernur .

Gubernur juga membuka peluang agar Papua Reggae Festival menjadikan Nabire sebagai tuan rumah tetap di masa mendatang.

“Jika di tempat lain tidak ada ruang untuk mengadakan kegiatan ini tahun-tahun mendatang, Papua Tengah siap menjadi rumah bersama untuk mengangkat bakat anak-anak kita. Nabire dan kabupaten-kabupaten di Papua Tengah siap menampung serta meningkatkan kualitas para musisi,” kat Meki.

Sementara itu, Ketua Panitia PRF XI, Ema Dogomo menjelaskan, setiap grup peserta akan membawakan tiga lagu berbahasa daerah, sebagai upaya melestarikan kearifan lokal melalui musik . Ia juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian selama festival berlangsung.

Festival ini diharapkan menjadi ruang strategis tidak hanya bagi musisi, tetapi juga bagi pelaku seni dan pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan potensi budaya dan ekonomi kreatif Papua Tengah. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan