Nabire, WAGADEI– Di bawah langit cerah ibu kota provinsi Papua Tengah, lapangan utama pusat kota berubah menjadi panggung kebanggaan. Ratusan siswa-siswi tingkat SMA dan SMK yang datang dari delapan kabupaten di wilayah Papua Tengah, yakni Nabire, Paniai, Mimika, Dogiyai, Puncak Jaya, Deiyai, Intan Jaya dan Puncak berkumpul dalam satu barisan, mengenakan ragam busana adat, wajah‑wajah muda bersinar penuh semangat.
Momen pembukaan Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah 2026 bukan sekadar perhelatan seni tahunan namun ia menjadi wadah di mana suara pemimpin dan harapan generasi penerus bertemu dalam satu pemahaman bersama, bahwa warisan leluhur adalah kekayaan yang tak terhitung nilainya.
Dalam pidato utamanya, Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH langsung menegaskan inti makna pertemuan besar ini. Ia menatap lautan peserta dan penonton, lalu mengucapkan rasa syukur yang mendalam.
“Saya mengucap syukur kepada Tuhan, karena budaya Papua khususnya Papua Tengah lebih mahal dari emas dan tembaga masih ada sampai hari ini,” kata Gubernur Nawipa.
Kalimat itu bergema kuat, mengingatkan semua orang bahwa di tanah yang dikenal kaya sumber daya alam, kekayaan yang paling sejati dan tak terganti justru terletak pada nilai‑nilai hidup, tradisi, bahasa, serta kebiasaan‑kebiasaan baik yang diwariskan turun‑temurun. Emas, tembaga, dan hasil bumi lain bisa habis terambil, namun budaya yang dijaga akan terus hidup, memberi arah dan jati diri bagi setiap anak bangsa.
Di tengah derasnya arus zaman dan gempuran era digital, tantangan menjaga warisan itu makin terasa nyata. Berbagai pengaruh luar, arus informasi yang tak terbatas, hingga gaya hidup asing sering kali palang‑memalang jalan, seolah ingin menutup atau mengubah jejak identitas asli.
Gubernur Meki pun menitipkan pesan khusus dan tegas kepada para pelajar sebagai kelompok yang paling akrab dengan teknologi, internet serta media sosial. Menurutnya, kemajuan zaman tidak perlu ditakuti, namun harus disikapi dengan bijak.
“Jangan biarkan internet dan media sosial mengikis jati diri kita,” katanya.
Sebaliknya, ia justru mengajak anak‑anak muda untuk membalikkan arah pengaruh tersebut. “Anak‑anak harus menjadi motor penggerak untuk memperkenalkan keindahan Bumi Cenderawasih ke luar,” ujarnya.
Di tangan generasi muda, gawai dan jaringan dunia dapat berubah menjadi jembatan, bahwa membawa cerita tentang keunikan lembah pegunungan, keindahan seni, kearifan menjaga alam serta kekuatan persaudaraan khas Papua Tengah hingga dikenal pelosok dunia.
Namun, tugas besar menjaga dan menyebarkan kebanggaan budaya butuh pondasi kekuatan diri yang kokoh. Karena itulah, Gubernur Meki Nawipa juga menyampaikan seruan yang tegas namun penuh perhatian. Ia meminta seluruh pelajar yang hadir untuk menjauhi minuman keras, narkoba, dan segala bentuk kenakalan remaja atau perilaku yang merusak masa depan.
Energi besar, semangat tinggi, dan waktu yang dimiliki masa muda, kata dia, adalah modal berharga yang harus dialihkan dan disalurkan ke jalan yang benar: belajar dengan tekun, berkarya lewat seni, berlatih olahraga, berinovasi serta saling menguatkan antarsesama.
“Yang utama adalah bagaimana anak‑anak saling menghormati, menjaga sportivitas, dan pulang membawa bekal persaudaraan yang erat,” katanya.
Bagi masyarakat yang tinggal di lembah‑lembah yang luas dan terpisah, persatuan dan rasa saling menghargai adalah kekuatan utama. Festival ini pun dirancang bukan sekadar sebagai ajang lomba atau pertunjukan, melainkan tempat bertemu, berbagi cerita, merasakan bahwa meski berbeda nama daerah, dialek, atau corak adat, semuanya adalah satu keluarga besar Papua Tengah.
Sesuai dengan nama perhelatan ini, yaitu Festival Cahaya, artinya setiap kegiatan yang tersaji sepanjang hari dan malam menjadi bukti nyata pesan yang disampaikan pemimpin.
Di panggung, tarian adat klasik tampil bersanding dengan kreasi baru diantaranya irama tifa dan bunyi pikon dipadu dengan nada‑nada musik kontemporer tanpa kehilangan jiwanya. Di area pameran, anyaman, ukiran dan kain tradisional tidak hanya ditampilkan sebagai barang kuno, tetapi dikembangkan menjadi desain busana, aksesori hingga karya seni rupa yang relevan dengan selera masa kini.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Yermias Degei, menilai, penyelenggaraan semacam ini adalah investasi masa depan yang paling tepat. Sebab, identitas bangsa dan daerah tidak bisa hanya disimpan di buku sejarah atau tersimpan rapi di lemari museum.
“Ia (budaya) harus terus dinyalakan, dibawa, dan dihidupkan dalam setiap langkah generasi muda,” kata Degei.
Dan seperti yang ditegaskan Gubernur Meki Nawipa malam itu juga selamanya budaya akan tetap menjadi harta yang jauh lebih berharga daripada emas, karena ia adalah cahaya yang tak akan pernah padam selama terus dijaga dan dibagi bersama.
Peserta tak hanya menampilkan tarian adat, nyanyian berbahasa daerah, atau irama tifa dan pikon atau kaido, mereka juga meramu tradisi dengan gagasan baru yakni busana adat dikreasikan ulang, cerita lisan disusun jadi naskah drama atau lagu modern, hingga hasil kerajinan anyaman dan ukiran dikembangkan menjadi produk bernilai guna tinggi.
“Di sini kami belajar: maju mengikuti zaman tidak harus berarti melepaskan akar. Justru budaya adalah kekuatan yang membuat kami beda dan kuat,” ujar Maria, salah satu siswa peserta dari Kabupaten Deiyai.
Ketua Panitia Pelaksana, Deni Tenouye menegaskan bahwa keikutsertaan pelajar dari berbagai penjuru sekaligus mempererat ikatan persaudaraan. Berbeda asal lembah, berbeda dialek, namun satu tujuan yaitu menjaga agar “api budaya” tak padam ditelan waktu.
“Selama berlangsungnya festival, pameran karya, lomba seni, hingga diskusi santai antarpelajar akan terus berjalan,” kata Tenouye.
Bagi Papua Tengah, momen ini adalah bukti hidup bahwa identitas bukan warisan mati yang disimpan, melainkan cahaya yang terus dinyalakanboleh tangan‑tangan muda, untuk masa depan bersama. (*)










