Tahun 1977, seorang pemuda baru saja menamatkan pendidikan di Sekolah Guru Bantu Nabire. Namanya Nataniel Madai. Dengan koper kecil, Alkitab, dan hati yang penuh panggilan, ia pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Kawagit, Distrik Kouh, Kabupaten Merauke.
Ia bukan datang karena gaji. Ia datang karena dipanggil oleh Tuhan, lewat Yayasan Penginjilan Persekolahan Reformasi (ZGK).
1977 – 1984: Tirop, Kampung Ujung
Tirop bukan nama yang ada di peta besar. Kampung ujung, Distrik Arimop, Kabupaten Boven Digoel. Ke sana tidak ada jalan aspal. Hanya rawa, sungai, dan jalan setapak yang kalau hujan berubah jadi lumpur sedada.
Di sanalah Pak Nataniel memulai. Sekolahnya berdinding gaba-gaba, beratap daun, berlantai tanah. Murid datang tanpa sepatu, buku tulis dibagi dua, kapur tulis dipatahkan agar cukup sebulan.
Tapi di kelas itu, Pak Nataniel mengajar lebih dari sekadar A-B-C. Ia ajarkan anak-anak Tirop untuk bermimpi.
“Ko bisa jadi apa saja,” katanya sambil menunjuk peta buta di papan. “Tapi pertama-tama, ko harus bisa baca nama Tuhan”.
Malam hari, lampunya pelita. Ia tulis rapor di bawah nyala damar. Saat malaria datang, ia guru sekaligus mantri. Saat kelaparan datang, ia guru sekaligus bapak yang membagi petatas rebus dari kebunnya sendiri. Delapan tahun ia habiskan di ujung itu. Tidak ada yang melihat, tapi langit mencatat.
1985 – 1986: Kembali Menimba
Ilmu tidak boleh berhenti. Tahun 1985 Pak Nataniel tinggalkan Tirop, masuk KPG Merauke. Setahun ia belajar lagi, karena ia percaya: anak pedalaman berhak dapat guru terbaik.
1987 – 1995: SD YPPGI Kouh
Ijazah baru di tangan, ia kembali. Kali ini di SD YPPGI Kouh. Sembilan tahun ia tanam lagi. Ia hafal nama semua murid, hafal siapa yang belum bayar uang sekolah tapi tidak pernah ia tagih. “Bayar dengan rajin belajar sudah,” katanya.
1995 – 2012: Firiwage, 17 Tahun Setia
Tahun 1995 ia dipindahkan ke Kampung Firiwage. Di sana ia mengabdi 17 tahun. Rambutnya mulai putih, langkahnya mulai lambat, tapi suaranya di depan kelas tetap tegas: “Hormat bendera! Siap berdoa!”
Anak-anak yang dulu ia ajar menulis di atas tanah, kini mulai kirim anaknya ke Pak Nataniel. Dua generasi ia jaga. Ia tidak kaya. Rumah dinasnya bocor kalau hujan deras. Tapi setiap 17 Agustus, rumahnya paling ramai — karena bekas muridnya datang bawa hasil kebun.
2012 – 2016: Tanah Merah, Garis Akhir Pengabdian
Tahun 2012, tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Ia dimutasi ke SD Negeri 2 Tanah Merah, Distrik Mandobo, Boven Digoel. Di kota kecil itu ia menutup masa baktinya.
Tahun 2016, ia pensiun. Tanpa pesta besar. Tanpa tanda jasa. Ia pulang hanya membawa koper tua yang sama dengan yang ia bawa tahun 1977. Isinya: Alkitab, beberapa foto kelas yang sudah menguning, dan puluhan surat dari murid.
Pak Nataniel Madai menghabiskan 39 tahun di pedalaman. Ia tidak pernah trending di Facebook. Tidak pernah masuk TV. Tapi di Tirop, Kouh, Firiwage, dan Tanah Merah, namanya hidup di mulut ratusan anak yang kini jadi mantri, guru, pendeta, mama-mama di pasar, dan bapak-bapak di dusun.
Karena bagi Pak Nataniel, menjadi guru di pedalaman bukan pekerjaan. Itu ladang. Dan ia sudah menabur dengan air mata, supaya Papua menuai dengan sorak-sorai.
“Kalau sa pu hidup bisa jadi jembatan kecil untuk anak-anak pedalaman lihat dunia, itu sudah cukup,” katanya suatu kali.
Dan memang cukup, Pak Guru. Lebih dari cukup. Terima kasih. Bukan pejabat, bukan artis, cuma guru kampung yang ubah ratusan nasib respek. Hormat, pahlawan tanpa tanda jasa. (*)
