Puncak Jaya, WAGADEI – Apresiasi sekaligus teguran. Itu yang disampaikan petani perempuan Puncak Jaya atas pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan pascapanen yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Mereka berterima kasih karena akhirnya didatangi. Tapi mereka juga mengingatkan bahwa jangan hanya datang sekali, beri materi lalu hilang.
Pelatihan itu digelar Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah bekerja sama dengan Asosiasi Kopi Indonesia (SCOPI) dan diikuti petani kopi di lokasi perkebunan kopi milik Yutimus Wonda, Kampung Trikora, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.
Di sanalah suara mama-mama itu terdengar paling jujur.
“Ini Pertama Kali Kami Didatangi”
Terena Tabuni, petani kopi asal Kampung Muara, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya tidak menyembunyikan keterkejutannya.
Baginya, pelatihan ini adalah yang pertama. Padahal kebun kopi mama-mama di Puncak Jaya sudah ada sejak lama.
“Terima kasih banyak Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah. Ini pertama kali kami didatangi untuk diberikan materi seperti ini. Di sini banyak petani kopi, baik mama-mama maupun bapak-bapak yang memiliki kebun kopi. Mungkin di balik gunung sana juga masih banyak kebun kopi masyarakat,” kata Terena.
Kalimat itu sederhana, tapi tajam. Di balik gunung sana, kata Terena, masih banyak kebun kopi masyarakat yang belum pernah disentuh program pemerintah.
Menurut Terena, masalahnya bukan karena masyarakat malas berkebun. Masalahnya karena kurang perhatian, kurang pembinaan dan kurang pendampingan.
“Memang kami sudah lama berkebun kopi, tetapi karena kurang perhatian, akhirnya kebun kami tidak berkembang seperti yang diharapkan. Setelah pemerintah datang mengambil data, kami bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Artinya, lanjut dia, begitu didata, begitu didampingi, petani langsung mau terlibat. Yang selama ini hilang bukan kemauan petani, tapi kehadiran pemerintah.
Terena menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, khususnya Gubernur Meki Nawipa, SH dan Wakil Gubernur Deinas Geley, hS.Sos, M.Si serta Dinas Perkebunan dan Peternakan yang telah menghadirkan pelatihan langsung bagi para petani.
Namun apresiasi itu ia sertai dengan tuntutan yang jelas. Terena meminta Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Puncak Jaya membangun kerja sama yang lebih kuat dengan petani kopi, perempuan maupun laki-laki.
Ia tidak mau pelatihan berhenti di ruang pelatihan. Ia mau pemerintah turun ke kebun, melihat langsung, mengontrol, dan mendampingi setiap tahun.
“Kami minta pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Puncak Jaya harus bekerja sama dengan kami, petani kopi mama-mama maupun bapak-bapak yang mempunyai kebun. Setiap tahun harus ada kontrol supaya kebun kopi kami yang ada di luar sana bisa berkembang dan masyarakat juga mendapat perhatian,” katanya.
Tuntutan itu masuk akal. Pelatihan tanpa pendampingan hanya akan jadi ceramah. Teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga cara panen yang benar hanya bisa hidup jika ada yang mendampingi di kebun, bukan hanya di kelas.
Pernyataan Terena ini menjadi ujian bagi program Gerakan Menanam Pohon Kopi di Papua Tengah.
Jika pemerintah hanya berhenti pada pelatihan dan pembagian bibit, maka kebun-kebun di balik gunung Puncak Jaya akan kembali terbengkalai seperti sebelumnya.
Tapi jika pemerintah benar-benar hadir setiap tahun datang, mengontrol, mendampingi maka kopi Puncak Jaya bukan hanya sekadar program, tapi bisa menjadi sumber kesejahteraan keluarga petani.
Terena berharap pelatihan ini menjadi awal dari perhatian pemerintah yang lebih serius terhadap petani kopi di Kabupaten Puncak Jaya. Ia menilai keberlanjutan program pembinaan sangat penting agar potensi perkebunan kopi yang dimiliki masyarakat dapat dikembangkan.
“Tuhan Yesus memberkati,” ucapnya. (*)





















