Bapperida Papua Tengah Petakan Harapan Masa Depan di Delapan Kabupaten

Nabire, WAGADEI – Jika Provinsi Papua Tengah adalah sebuah rumah, maka rumah itu memiliki delapan kamar, delapan kabupaten, delapan denyut dan delapan cerita yang tak sama.

 

Dan Badan Perencana Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) sedang belajar mendengarkan dinding-dinding rumah itu di mana yang retak, di mana yang bocor dan di mana yang perlu cahaya.

 

“Kami ingin melihat sejauh mana pelaksanaan penurunan stunting dan angka kemiskinan di 8 kabupaten. Sebab dari data yang ada, Papua Tengah cukup tinggi untuk stunting, yaitu 32,5 persen,” ujar Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, S.STP, M.Si saat ditemui di Nabire di ballroom kantor Gubernur.

 

Kalimat itu bukan sekadar statistik. Namun itu adalah jeritan yang dibungkus angka. Kata Yogi, 32,5 persen adalah anak-anak yang bertaruh tumbuh di tengah awan pegunungan Puncak Jaya, Intan Jaya dan Puncak. Adalah ibu-ibu hamil di lembah Paniai, Dogiyai dan Deiyai yang menunggu piring berisi gizi. Adalah keluarga di pesisir Nabire dan Mimika yang kaya alam, tapi masih bertanya “apakah hari esok lebih kenyang?”.

Kepala Bapperida Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, S.STP, M.Si – 📸 Humas Setda

Kepala Bapperida menyebutnya dengan jujur; “inilah persoalan pembangunan kita.”

 

Dari pesisir Nabire dengan potensi perikanan dan pariwisata, Mimika dengan tambang dan pelabuhan hingga Paniai, Intan Jaya, Puncak Jaya dan Puncak dengan kebun kopi dan pertanian yang menggantung di langit serta Dogiyai dan Deiyai dengan hutan dan pariwisata yang belum terjaga, bahwa semua memiliki luka yang sama tentang akses yang jauh, data yang belum akurat dan program yang belum saling menyapa.

 

“Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang solid, mulai dari validasi data yang akurat, pembinaan di kabupaten, hingga eksekusi program yang tepat sasaran,” kata Eliezer tegas.

 

Menurutnya, satu program tak bisa berjalan sendiri. Ia harus dirajut. Seperti noken yang dianyam dari banyak benang.

 

Karena itu lahir *Program Papua Tengah Bangkit — Bangun Generasi dan Keluarga yang Inklusif dan Tangguh.* Program yang, kata Eliezer, memang dikhususkan untuk ibu hamil dan balita, untuk memotong rantai stunting dan kemiskinan ekstrem dari akarnya.

 

“Program Bangkit membutuhkan koordinasi yang kuat antara provinsi, kabupaten, dan perangkat daerah lintas sektor,” ujarnya.

 

Kini, FGD Penyusunan Naskah Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Wilayah 2026 yang diinisiasi Bapperida menjadi ruang untuk itu. Bukan sekadar forum. Tapi ruang untuk mengakui kita belum selesai.

 

Bapperida tidak ingin membangun dari asumsi. Mereka ingin membangun dari data, dari kampung, dari mama-mama yang antre di Puskesmas.

 

Seperti kata Eliezer, jika stunting dan kemiskinan ekstrem adalah dua tantangan yang saling berkaitan dan menjadi prioritas nasional, maka Papua Tengah harus menjawabnya dengan cara yang paling Papua Tengah; duduk bersama, bicarakan bersama, kerjakan bersama di delapan kabupaten.

 

“Sebab peta pembangunan bukanlah garis di atas kertas,” katanya.

 

Ia adalah jejak kaki dari Nabire hingga Mulia. Ia adalah asap dapur di Moanemani. Ia adalah suara anak yang harusnya tumbuh lebih tinggi dari gunung-gunungnya sendiri.

 

Dan Bapperida, hari ini, sedang mencoba menulis ulang peta itu bahwa bukan dengan tinta, tapi dengan harapan. (*)

Pos terkait