Wamena, (WAGADEI) – Penjual daging babi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua kembali bersuara dan menyatakan sikap atas nama kepala suku, kepala adat Lembah Baliem untuk menutup segala macam perdagangan daging babi yang dilakukan oleh bukan orang asli Papua di Jayawijaya.
“Poin utama adalah terkait babi hidup, orang-orang non Papua misalnya orang Toraja, Batak maupun muslim jangan jual babi di Kabupaten Jayawijaya atau di Wamena ini. Kita tutup dan palang,” kata Landius Yanengga, mewakili penjual babi hidup di pasar Jibama Wamena, Jumat (28/7/2023).
Ia mengatakan, waktu dulu di Kabupaten Jayawijaya siapapun tidak pernah belajar jual beli. Memulai belajar penjual babi, penjual ikan dan penjual udang adalah tiga suku di pegunungan.Memulai jual beli sudah sejak lama, awalnya dari pasar lama jalan Irian, pindah ke pasar lama, kemudian pindah ke pasar baru di Jibama), hasil cari jual beli sebagian telah menjadi pegawai negeri.
“Jadi mereka belajar jual beli ini, dari tahun sekitar seribuan di pasar lama atau lalan Irian dari pasar lama kita pindah ke pasar Jibama atau pasar baru. Hasil dari itu kita punya kakak-kakak senior sebagian besar sudah pegawai negeri, pejabat, sebagian sudah almarhum,” ujarnya.
Sejak tahun 2005 – 2010, lanjut dia, harga babi memang murah, namun dari tahun 2010 – 2015 muncul salah satu penyakit yaitu babi mati atau kondoyu. Penyakit ini merembes ke pengunungan delapan kabupaten.
“Jadi kita punya babi di kandang semua mati habis, akhirnya non Papua atau pendatang mereka belajar jual babi di kabupaten Jayawijaya,” ujarnya.
Menurut dia, selama beberapa tahun mata pencaharian penduduk asli dianggap telah merampas hak OAP.
“Ini kita orang asli Papua semua delapan kabupaten Papua Pengunungan kita pahami baik, kita punya hasil usaha dari kebun, jenis buah-buahan dengan sayur sayuran. Pertanyaan besar untuk kita semua, dari hasil, selesaikan kita punya anak-anak sekolah memiliki gelar S1, S2, S3 hasil jual babi. Baru anak-anak bisa wisuda dengan baik,” katanya.
Penjualan babi dilakukan OAP untuk membantu kehidupan keluarga terutama biaya pendidikan anak.
“Hasil dari ini banyak anak-anak kita yang berhasil, untuk bangun papua pegunungan sehingga kita jaga, bagian ini tidak satuan non OAP melakukan usaha,” katanya.
Ia juga menambahkan semua kelompok, LMA dan DPRD harus angkat suara dan hentikan semuanya ini.
“Jadi semua elemen untuk bersikap bahwa sejak sekarang, tidak ada lagi aktifitas pengiraman babi dari bandara udara Sentani ke Wamena,” katanya. (*)


