Nabire, WAGADEI — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menggelar emergency meeting (rapat darurat) menyikapi meningkatnya titik kebakaran di Kabupaten Nabire, Jumat, (21/8/2026). Rapat digelar setelah kepulan asap mulai terlihat semakin nyata di sejumlah wilayah, bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire.
Pj Sekda Papua Tengah, dokter Silwanus Sumule mengatakan rapat yang digelar di kantor Gubernur Papua Tengah tersebut dilakukan untuk memastikan langkah cepat menghadapi kondisi kebakaran yang terjadi saat ini. Pemerintah daerah juga melibatkan sejumlah instansi terkait untuk memperkuat penanganan di lapangan.
“Yang pasti, sesudah pertemuan ini, tim sudah mampu mengidentifikasi persoalan-persoalan yang kita hadapi dan sudah ada langkah-langkah solutif yang akan dilakukan,” kata Silwanus kepada wartawan.
Rapat tersebut melibatkan unsur Kehutanan, BPBD, dan Dinas Kesehatan Papua Tengah. Kepolisian, RRI, dan BMKG turut dilibatkan dalam pembahasan kondisi kebakaran dan potensi perkembangannya.
Menurut Silwanus, BMKG akan memaparkan kondisi cuaca dan titik-titik kebakaran, tidak hanya di Nabire tetapi juga di sejumlah kabupaten lainnya. Data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Berdasarkan data BMKG Nabire, tercatat 512 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah kabupaten Papua Tengah pada periode 20–21 Agustus 2026. Nabire menjadi wilayah dengan jumlah titik panas paling banyak, yakni mencapai 279 titik. Dari total tersebut, 94 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 409 titik pada kategori sedang, dan 9 titik masuk kategori tinggi.
Agustus–September: Puncak Potensi Kebakaran
Silwanus menyebut Agustus hingga September merupakan periode puncak potensi kebakaran. Karena itu, pemerintah akan menyiapkan langkah taktis untuk menekan peningkatan titik api selama periode tersebut.
“Agustus dan September sudah harus ada langkah-langkah taktis yang akan kita lakukan,” ujarnya.
Silwanus mengatakan pada Senin mendatang seluruh tim yang terlibat akan dikumpulkan dalam sebuah upacara. Setelah itu, pemerintah akan kembali menggelar pertemuan untuk menentukan langkah penanganan yang lebih terarah.
Dari sisi peralatan, Silwanus mengakui pemerintah masih menghadapi keterbatasan armada pemadam kebakaran. Saat ini terdapat enam mobil pemadam yang berasal dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Nabire. Selain itu, Kepolisian memiliki dua kendaraan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan kebakaran dalam kondisi darurat, meski bukan diperuntukkan khusus sebagai mobil pemadam.
Kondisi asap pekat telah mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire. Kepulan asap dari kebakaran lahan di sekitar bandara menyebabkan jarak pandang turun drastis hingga sekitar 70 meter, sehingga aktivitas penerbangan dihentikan sementara pada Jumat siang.
Kebakaran lahan juga sempat terjadi di area sekitar bandar udara setempat, yang secara langsung mengancam navigasi penerbangan.
Bupati Mesak: Ada Oknum Sengaja Bakar Hutan
Sementara itu, Bupati Nabire Mesak mengungkapkan bahwa ada pihak yang sengaja membakar hutan dan lahan. Ia menyayangkan masih adanya pihak yang mengabaikan keselamatan bersama setelah pemerintah mengeluarkan imbauan pasca-HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu.
“Yang pura-pura tidak mengerti inilah yang justru berniat mengacaukan situasi. Fenomena ini harus segera diantisipasi bersama,” ujar Mesak.
Polri Bergerak Cepat
Polda Papua Tengah juga bergerak cepat dengan mengerahkan personel gabungan bersama Satuan Brimob untuk melakukan pemadaman di lokasi kebakaran, terutama di Distrik Nabire Barat yang diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan.
BPBD Akui Tak Mampu Jangkau Semua Titik Kebakaran
Kepala BPBD Provinsi Papua Tengah Jarius Agimbau mengakui pihaknya telah melakukan pemadaman di beberapa lokasi, seperti Kaladiri di belakang Kantor Pusat Pemerintahan yang sedang dibangun dan kawasan Sanoba. Namun, kondisi di lapangan cukup sulit karena BPBD masih menghadapi keterbatasan armada pemadam.
“Kami dari BPBD juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menyiapkan masker bagi masyarakat yang terdampak kabut asap,” ucapnya. (*)







