Wamena, WAGADEI.ID – Di tengah dinginnya cuaca pegunungan, suara kekecewaan bergema dari lapangan hijau. Para pemain putra daerah Wamena United merasa tersisih setelah mayoritas dari mereka dipangkas dari skuad Liga 4, menyisakan hanya lima nama.
“Kami masih ada,” begitu pekik hati mereka pada Jumat (10/4/2026).
Mereka menolak hilang dari panggung sepak bola yang pernah mereka perjuangkan dengan keringat dan harga diri.
Di Wamena, sepak bola bukan sekadar permainan. Ia adalah simbol kebanggaan, identitas, dan harga diri anak gunung. Namun keputusan manajemen Wamena United yang memangkas hampir seluruh pemain lokal meninggalkan luka mendalam.
“Lebih sakit dari kekalahan adalah tidak diberi kesempatan,” kata An Elop.
Pasalnya bahwa mereka merasa bahwa kerja keras selama ini tak berarti. Latihan demi latihan, pertandingan demi pertandingan, semua terhapus oleh keputusan yang datang tanpa penjelasan.
“Kami bukan tak mampu, kami hanya tak diberi ruang untuk maju,” lanjutnya.
Para pemain putra daerah menegaskan bahwa mereka bermain bukan sekadar mengejar bola, melainkan membawa nama Wamena.
“Kami adalah anak tanah ini. Kami ingin tumbuh tanpa dibatasi,” kata seorang pemain muda yang kini harus menatap masa depan dengan penuh tanda tanya.
Kekecewaan itu berubah menjadi tekad. Mereka berjanji akan mencari jalan lain, membuktikan bahwa anak Wamena tidak bisa dipatahkan begitu saja.
“Jika jalan di sini tertutup rapat, kami akan cari jalan lain yang lebih kuat,” katanya.
Bagi mereka, sepak bola adalah panggung harga diri. Dipinggirkan tanpa alasan bukan hanya soal kehilangan posisi, tetapi juga kehilangan ruang untuk menunjukkan jati diri.
“Kami akan kembali dengan cara kami, lebih kuat, lebih berani,” kata An Elup sapaan akrab salah satu pemain senior.
Kisah ini bukan sekadar tentang tim yang kehilangan pemain, melainkan tentang anak-anak Wamena yang menolak hilang dari sejarah. Mereka berdiri dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, nama mereka akan kembali bergema.
“Karena kami bukan sekadar pemain kami adalah harga diri yang tak bisa dipatahkan,” kata An Elop. []







