Dari Cenderawasih Jadi Cendera Mata, Diburuh Atas Nama Tradisi Papua

Mahkota burung Cenderawasih katika dipasarkan - Foto: Laura Sobuber

Bagian I

Jayapura, WAGADEI – Petang hari di Kota Jayapura, Ibukota Provinsi Papua pada tanggal 26 Mei 2025 lalu, cahaya senja merayapi langit sambil mewarnainya dengan gradasi jingga. Itu menjadi tanda hari sedang ditutup. Tetapi ini juga menjadi penanda dimulainya aktivitas bisnis rakyat jelata di pinggir trotoar, Jalan Ahmad Yani, Kota Jayapura, Papua. 

Di sebuah lapak, seorang pedagang menjual cendera mata asli Papua. Ada rajutan noken kulit kayu, lukisan kulit kayu, gelang besi, sisir bambu, sampai mahkota tradisional dengan hiasan bulu ayam dan kasuari. Jika beruntung, anda juga akan melihat mahkota dengan hiasan bulu burung cenderawasih.

Mahkota burung cenderawasih menjadi jualan primadona di sana. Bulunya yang indah—paduan warna-warni kuning, hijau, putih, coklat, dan jingga yang mencolok dan elegan—menjadi daya tarik utama bagi pembeli.

“Sayang mahkota cenderawasihnya sudah dibeli,” kata Mama Tina, pemilik lapak itu, pada Jumat, 25 Agustus 2023.

Ia menyampaikan kabar ini karena beberapa hari sebelumnya mahkota tersebut terlihat dipajang di lapaknya.

Mama Tina adalah satu dari tiga penjual orang asli Papua di Kota Jayapura yang berjualan mahkota cenderawasih asli.

Cenderawasih adalah burung endemik Papua dengan bulu yang teramat indah. Ada 28 jenis cenderawasih di Papua. Karena pemburuan dan konservasi lahan, burung ini populasinya terus menurun.

Kini burung dari surga itu dalam status dilindungi, tetapi Mama Tina menjualnya secara terang-terangan. Dia merasa sedang menjaga tradisi.

Mama Tina bercerita, mahkota dari bulu burung cenderawasih ada harganya, berbeda dengan mahkota dari bulu kasuari yang boleh dijual Rp300 ribu per buah.

“Harga biasanya Rp3 juta. Kalau minta kurang, bisa Rp2,5 juta sampai Rp2 juta kita kasih,” kata Mama Tina.

Dia mengungkapkan, mahkota cenderawasih selalu laris saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. Pada HUT ke-78 yang lalu, paling kurang ia menjual empat mahkota. Di luar bulan tersebut, katanya, permintaan berkurang.

“Pas momen 17-an semua jualan habis diborong. Bahkan sampai dengan rumbai-rumbai, semua habis. Tapi kalau hari biasa, susah habis. Kebanyakan satu mahkota baru bisa terjual dalam satu bulan atau lebih,” ujar Mama Tina.

Ia mengaku tidak mendapat untung besar dari bisnis aksesoris itu. Keuntungan dari hasil penjualan ia gunakan untuk membuat lebih banyak aksesoris, membayar biaya pendidikan anak, dan kebutuhan hidup lainnya.

“Ada tantangan, seperti pasokan bahan dan harga, tapi kami tetap bersemangat dan terus berusaha untuk menjaga tradisi pembuatan aksesoris khas Papua tetap hidup,” kata Mama Tina.

Usahanya ini, ujarnya lagi, mendapat dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua. Dia mengaku telah diajak pemerintah daerah untuk mulai menggalakkan penjualan mahkota cenderawasih imitasi.

Menurut Mama Tina, tak gampang mendapat bahan baku bulu burung cenderawasih. Ia biasanya membeli dari warga kampung di beberapa distrik pedalaman Kabupaten Jayapura dan Keerom yang datang ke Kota Jayapura membawa cenderawasih dan kasuari. Namun, jika ada permintaan mendesak, ia yang harus “menjemput bulu” cenderawasih ke kampung-kampung keluarga dan relasinya.

“Gampang-gampang susah untuk mendapatkannya. Karena saya harus naik dan membeli di kampung-kampung. Kadang ada yang menjual di Lereh (Kabupaten Jayapura) ada juga yang di Senggi (Kabupaten Keerom),” kata dia.

“Di sana (kampung-kampung tujuan), orang-orang kampung menjual langsung. Kalau beli burung cenderawasih secara langsung dari orangnya (pemburu) bisa dapat Rp200 ribu, kadang Rp500 ribu,” kata dia.

Cerita Mama Tina dibenarkan Robi, seorang pemburu burung di Kabupaten Keerom, “Kalau ada yang mau beli, harus siapkan Rp1 juta. Karena sekarang ini harga cenderawasih sedang mahal,” katanya.

Dia menambahkan, perburuan cenderawasih di wilayah perbatasan Indonesia – Papua Nugini (PNG) makin hari kian meningkat karena permintaan pasar yang tinggi.

Penyebab lainnya, “Permintaan masyarakat lokal untuk kepentingan prosesi tradisi dan budaya yang kian bertambah,” kata Robi.

Roby adalah pemburu ketiga yang dihubungi dan bersedia diwawancara.

Pemburu pertama berdomisili di Kampung Towe Hitam, Distrik Towe. Kampung yang berjarak 130 kilometer dari Kota Jayapura. Lokasinya berada di tengah pedalaman dengan akses transportasi utama pesawat terbang Pilatus Porter disambung perahu cepat untuk menyusuri hulu Sungai Mamberamo.

Pemburu tersebut awalnya menyatakan bersedia diwawancarai di Arso, ibukota Kabupaten Keerom. Namun, pemburu itu kemudian hilang kontak, hingga akhirnya diketahui sudah berangkat dengan pesawat karena ada kegiatan mendesak.

Pemburu kedua yang dihubungi adalah warga Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan, yang menetap di Distrik Senggi, Keerom. Jarak antara Distrik Senggi dengan Kota Jayapura sekitar 90 km melewati jalan terjal dan rusak.

Melalui pesan singkat dia awalnya menyatakan setuju untuk bertemu. Namun, saat mengetahui akan diwawancara wartawan, dia menolak ditemui dan meminta untuk tidak dilibatkan.

Selanjutnya adalah Roby, yang berdomisili di Distrik Waris, Keerom. Dia bersedia diwawancara, tetapi hanya mau berkomunikasi melalui telepon seluler. Distrik Waris, seperti juga Distrik Senggi, adalah distrik yang dilalui Jalan Trans Papua rute Jayapura – Wamena.

Ketika Roby menunjukkan hasil buruan burung cenderawasih yang telah diawetkan. | Foto: Laura Sobuber

Roby mengatakan, dari tiga jenis burung cenderawasih yang hidup di kawasannya, permintaan terbanyak adalah untuk burung cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor). Sementara dua jenis lainnya, cenderawasih 12 antena dan cenderawasih raja, jarang diminta.

Dia berburu berkelompok, terdiri dari tiga atau empat orang, menggunakan senapan angin.

Ia tak menyukai metode berburu dengan menggunakan jaring. Alasannya, burung surga tersebut tinggal di tempat-tempat tersembunyi di tengah hutan, sehingga metode jaring banyak makan waktu dan tenaga.

“Kalau mau berburu cenderawasih, kasih saja senapan angin. Cenderawasih itu gampang kita cari, kalau senapannya ada,” kata dia pada Sabtu, 9 September 2023.

Masih ada alasan lain mengapa ia lebih suka berburu dengan senapan angin. Ini terkait demand. “Kalau jaring dan tangkap hidup-hidup kami sedikit (permintaan), banyak yang mau tangkap dengan tembak menggunakan senapan angin,” ungkap dia.

Ketika hari berburu tiba, Robi dan kawan-kawannya akan masuk hutan jam 3 pagi. Mereka akan mengikuti suara cenderawasih, yang rutin berkumpul menyambut pagi di pokok-pokok pohon.

“Burung-burung itu berkumpul di batang kayu untuk bermain atau menari. Namun, saat mau menembak tidak gampang, sebab burung cenderawasih kalau melihat orang, akan langsung terbang,” kata Roby. (*/bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan